RSS

Category Archives: Filsafat

Berani Berbeda: Belajar dari Prof. Dr. Mulyadhi Kartanegara

Bersama Pak Mul dan Nanik

“Zuhriyyah, Don’t be afraid to be different!”

Itulah pesan Prof. Mulyadhi Kartanegara yang dituliskannya di sampul depan buku Reaktualisasi Tradisi Ilmiah Islam (Jakarta: Baitul Ihsan, 2006) milik saya. Mendapatkan pesan khusus dari beliau dengan tulisan tangan adalah hal yang istimewa bagi saya, karena sejak lama saya menginginkan untuk menjadi murid beliau.

Saya ingat, pertama kali saya mengenal nama beliau saat saya kuliah S1 di Institut Ilmu Al-Qur’an dengan mata kuliah filsafat Islam dan buku yang menjadi bahan bacaan utama saya adalah buku saku Gerbang Kearifan: Sebuah Pengantar Filsafat Islam (Jakarta: Lentera Hati, 2006). Sejak membaca buku itu, saya langsung terkesima dengan gaya tulis beliau yang ringan, santai, dan mengalir meskipun tema yang dibahas adalah filsafat. Saya yang kala itu baru pertama kali berkenalan dengan filsafat dibuat jatuh cinta dengannya melalui buku saku tersebut. Sejak itu ketertarikan saya kepada filsafat pun mulai tumbuh dan terus berkembang. Untuk hal ini, saya merasa berhutang kepada beliau karena telah membawa saya pada dunia filsafat dengan sangat indah.

Sejak saat itu, saya sangat berharap untuk bisa belajar langsung kepada beliau. Bagi saya, belajar dari tulisan beliau saja sudah membuat saya ‘hidup,’ maka belajar langsung pastilah membuat saya semakin ‘hidup’ dan menyelami luasnya lautan ilmu. Kesempatan itu pun datang ketika kemudian saya kuliah lagi di ICAS dan bertemu dengan dosen-dosen yang bagi saya sangat istimewa dalam keilmuannya, salah satunya adalah Prof. Mulyadhi Kartanegara.

Beberapa mata kuliah yang saya ikuti dari beliau adalah Sejarah Peradaban Islam dan Sejarah Filsafat Islam. Saya kemudian juga mengikuti kajian seri Filsafat dan Sains Islam di lembaga yang beliau pimpin, CIPSI (Center of Islamic Philosophy Studies and Information). Dan terakhir saya berguru langsung pada beliau saat kuliah di Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah.

Kemudian, apa saja yang saya pelajari dari beliau?

Pertama, filsafat itu mudah. Itu kesan yang paling pertama saya tangkap dari visi hidup beliau, yaitu membuat filsafat itu mudah dipahami. Ini bukan lagi bicara halal-haramnya filsafat, seperti yang diperdebatkan sebagian kelompok. Filsafat dikenalkan beliau dengan bahasa yang ringan dengan tetap menyajikan ide-ide yang ‘khas filsafat.’ Di antara buku filsafat yang ditulis dengan gaya tulis yang ringan adalah Gerbang Kearifan (Jakarta: Lentera Hati, 2006) yang menyajikan sebuah pengantar filsafat Islam yang utuh untuk sebuah buku saku dan buku pengantar. Dibanding buku-buku pengantar filsafat Islam yang lain, buku ini lebih mudah dipahami karena sub-sub judul yang disusun secara sistematis, mulai dari aliran-aliran filsafat Islam, tema-tema utama filsafat Islam, filsafat dan hubungannya dengan yang lain, dan diakhiri dengan masa depan kajian filsafat Islam. Kita bisa membandingkan sub-sub judul ini dengan buku-buku pengantar filsafat Islam sejenis yang biasanya disusun berdasarkan rentetan sejarah filsafat Islam yang berisi beberapa tokoh filsuf muslim. Dengan sub-sub judul seperti yang disusun Prof. Mulyadhi, pembaca akan diajak untuk mengetahui cakupan filsafat Islam secara lebih luas, meskipun buku tersebut bersifat pengantar (yang butuh kajian yang lebih dalam). Buku filsafat lain yang ditulis dengan gaya ringan adalah Menyibak Tirai Kejahilan: Pengantar Epistemologi Islam (Bandung: Mizan, 2003). Dalam buku ini, pembahasan tentang prinsip-prinsip epistemologi Islam dengan gaya mendongeng. Bisa Anda bayangkan bagaimana rasanya kalau kita membaca buku dongeng, pasti Anda akan dibawa pada satu alur cerita ke cerita lain secara berurutan, dan di buku ini, cerita tersebut adalah tentang tema-tema epistemologi Islam, seperti sains, ilmu, dan opini, dilanjutkan dengan sains, filsafat, dan agama, kemudian dilanjutkan dengan pembahasan indra, akal, dan hati. Pembahasan kemudian dilanjutkan dengan status dan basis ontologi objek ilmu, metode-metode ilmiah, yang disempurnakan dengan tema pengalaman mistik (irfan). Buku ini merupakan kelanjutan dari buku sebelumnya yang merupakan refleksi pengembaraan intelektual beliau yang berjudul Menembus Batas Waktu: Panorama Filsafat Islam (Bandung: Mizan, 2002). Buku yang terakhir ini bahkan ditulis dengan gaya buku harian yang sangat mengalir dan bisa dipastikan bila Anda membacanya, Anda bisa tidak menyadari bahwa Anda sedang membaca buku filsafat.

Hal kedua yang saya pelajari dari beliau adalah kebanggan menjadi seorang muslim. Ini bukan sekedar kebanggaan atas sejarah masa lampau atau romantisme kejayaan Islam masa lampau. Lebih dari itu, apa yang beliau lakukan, baik dalam mengajar maupun dalam tindakan praktis, seperti penelitian, penerjemahan karya-karya ulama masa lampau, dan kajian-kajian yang beliau selenggarakan, semua menjadikan wajah sejarah Islam yang sangat kaya. Bahwa sejarah Islam pernah begitu kaya dan menjadi umat terdepan dalam peradaban. Tidak seperti dosen lainnya yang cukup berhenti pada penyampaian sejarah kejayaan masa lampau, Prof. Mulyadhi mengajak kami, para mahasiswa dan para peneliti untuk melangkah selangkah lebih maju terhadap sejarah kejayaan masa lampau. Di antaranya meneliti kembali latar belakang dari kemajuan tersebut (yang ditulis beliau dalam satu buku khusus, yaitu Reaktualisasi Tradisi Ilmiah Islam, Jakarta: Baitul Ihsan, 2006). Selanjutnya beliau mengajak para peneliti untuk mengklasifikasi para ilmuwan masa lampau yang ternyata sangat banyak dan sayangnya hanya sedikit saja yang ditulis para sejarawan (di penelitian ini saya sempat menjadi salah satu peneliti yang dikoordinir beliau. Sayangnya proyek penelitian ini tidak berlanjut karena ada kendala teknis). Selain itu, beliau juga mengajak beberapa koleganya yang ahli bahasa untuk menerjemahkan beberapa karya klasik, salah satunya adalah kitab Rasa’il Ikhwan al-Shafa’. Kitab ini memuat informasi tentang berbagai disiplin ilmu pengetahuan yang telah berkembang di dunia Islam pada sekitar abad kesepuluh dan sebelas, seperti matematika, etika, logika, fisika psikologi dan agama dalam 52 risalah ilmiah. Hal lain yang beliau lakukan tanpa mengenal lelah adalah mensosialisasikan semua hasil kajian itu kepada kalangan masyarakat luas, bahwa sejarah Islam sangat kaya dan semua itu bisa dicapai kembali dengan mempelajari sejarah, mencatat hal-hal yang patut dijadikan pelajaran, tidak mengulangi kesalahan sejarah, dan melanjutkan hal-hal yang dilakukan para pendahulu dengan tetap menyesuaikan keadaan tantangan masa kini.

Ketiga, keteguhan dalam berjuang. Hal yang saya ingat dari pesan beliau adalah menemukan visi hidup dan kemudian memegang teguh visi tersebut untuk terus diperjuangkan. Beliau berkata bahwa visi hidup beliau adalah menghidupkan kembali tradisi ilmiah dan filsafat Islam. Beliau sangat teguh dalam memperjuangkan visi tersebut kendati dalam keadaan ‘sendiri.’ Beliau beberapa kali bercerita bahwa upaya beliau dalam mengintegrasikan ilmu seringkali disalahpahami atau bahkan diremehkan dan dianggap sesuatu yang mustahil dilakukan dan sekedar romantisme masa lalu. banyak orang yang berpikiran bahwa ilmu yang ada dan menyebar di dunia pendidikan Islam itu tidak bermasalah dan netral. Namun beliau menekankan bahwa ilmu itu tidak netral dan mempunyai nilai. Tantangan ilmuwan muslim adalah mengenal nilai-nilai yang tidak sesuai dengan ajaran Islam, seperti positivisme, sekularisme, dan isme-isme lain untuk kemudian dieliminasi sehingga suatu disiplin ilmu itu benar-benar sesuai dengan pandangan hidup Islam (islamic worldview). Dalam hal itulah saya bisa memahami pesan yang beliau tuliskan di buku saya yang saya kutip di awal tulisan ini.

Pelajaran keempat yang bisa saya ambil dari beliau adalah membumikan filsafat dalam kehidupan praktis. Artinya mempelajari filsafat tidak melulu berkutat pada konsep-konsep melangit seperti konsep asholatul wujud, asholatul mahiyah, dan lain-lain. Salah satu tema filsafat Islam yang saat ini banyak menjadi perhatian adalah psikologi Islam. Beliau menjelaskan bahwa sebagai seorang muslim, sudah seharusnya konsisten dengan prinsip-prinsip Islam tentang jiwa manusia yang di dalamnya mengafirmasi status ontologi jiwa, ruh, akal, dan lainnya. Pilihan untuk konsisten ini hanya bisa dilakukan dengan mempelajari psikologi filsafat Islam atau peikologi sufistik yang dikembangkan para ilmuwan muslim masa lampau.

Tema lain dari filsafat Islam yang bermanfaat dalam dunia praktis dan banyak dikembangkan pada masa kini adalah filsafat etika, psikologi pendidikan Islam, teologi, dan lainnya. Tema-tema ringkas ini dituliskan oleh Prof. Mulyadhi di buku Mozaik Khazanah Islam: Bunga Rampai dari Chicago (Jakarta: Paramadina, 2000), seperti tema Seni Menepis Kesedihan dan Memelihara Kesehatan Jiwa untuk tema etika, Konsep Pendidikan Anak dan Psikologi Anak dalam Pandangan al-Jawziyah untuk tema psikologi pendidikan Islam, dan lainnya.

Hal kelima yang bisa saya pelajari dari beliau adalah semangat menghidupkan tradisi. Oleh beberapa peneliti, ilmuwan yang menghidupkan tradisi disebut tradisionalis. Dalam hal ini kita bisa menyebut beberapa ilmuwan yang masuk dalam kategori tradisionalis, seperti Seyyed Hossein Nasr dan S.M. Naquib al-Attas. Saya pribadi bisa menemukan semangat tradisionalis ini pada diri Prof. Mulyadhi. Beliau menjunjung tinggi nilai-nilai tradisional yang memang masih relevan dengan dunia masa kini dan layak dijadikan solusi dari permasalahan-permasalahan dunia modern, seperti dehumanisasi, sekularisasi, dan bahkan krisis multidimensi. Beberapa tulisan beliau dalam Pengantar Studi Islam, beliau menjelaskan beberapa nilai tradisional yang relevan dalam permasalahan masa kini, seperti konsep psikologi sufistik untuk persoalan dehumanisasi, konsep ekonomi Islam sebagai solusi dari persoalan rumah tangga, seperti kenakalan remaja, tingkat perceraian, dan lainnya, dan konsep politik Islam sebagai sulosi persoalan perpolitikan.

Hal terakhir yang saya pelajari dari beliau adalah sikap rendah hati. Guru, bagi saya tidak sekedar mentransfer pengetahuan melalui tulisan atau penjelasan di kelas. Lebih dari itu, guru yang sejati selalu mengajarkan ilmu melalui teladan dan sikap. Dalam hal ini, saya melihat beliau sebagai guru teladan yang sejati. Beliau sangat rendah hati dengan ilmunya, selalu bersikap terbuka kepada semua mahasiswanya, tidak berbangga diri dengan kedudukannya, dan selalu menerima kami, para mahasiswanya yang datang untuk berkonsultasi. Saya teringat dengan kajian saya tentang adab murid dan guru di mana seorang guru hanya bisa mendapatkan penghormatan bila mereka memiliki otoritas secara akademik dan juga teladan moral yang konsisten.

Hal ini sejalan dengan rumusan yang menekankan metode penekanan pada pembentukan akhlak terpuji dan pemulihan akhlak yang rusak. Menurut al-Ghazali, cerminan dari insan kamil adalah seorang yang memiliki akhlak yang sempurna pula. Dalam hal ini, al-Ghazali menjadikan guru sebagai figur sentral dalam segala aspek pendidikan di manapun ia berlaku. Ini dikarenakan tiada profesi apapun di dunia ini yang lebih mulia dari seorang guru dan pendidik, yaitu orang yang menjadi perantara antara Tuhan dan makhluk-Nya. Ia menjadi perantara yang mengantarkan murid-muridnya pada Tuhannya. Dan saya melihat kriteria ini pada diri guru saya, Prof. Mulyadhi Kartanegara.

Akhirnya, saya merasa beruntung karena pernah berguru dan pernah mendapat bimbingan langsung dari beliau, terutama dalam bidang sejarah. Beliau adalah profesor yang benar-benar memahami hakekat sejarah, sejarah yang tidak hanya berupa sekumpulan data yang tersusun dalam pojok-pojok perpustakaan dan deretan angka-angka. Sejarah adalah catatan peristiwa-peristiwa berharga yang telah terjadi, yang darinya banyak pelajaran yang bisa dimanfaatkan. Sejarah keemasan berarti memberikan pelajaran bagaimana suatu bangsa bisa mencapai kemajuan serta proses-proses yang telah ditempuhnya. Sebaliknya, sejarah keterpurukan memberikan pelajaran bahwa ada kesalahan yang pernah dibuat, sehingga dengan mempelajarinya, kesalahan-kesalahan tersebut tidak akan diulang kembali.

Beliau menghadirkan sejarah yang hidup kepada kami. Sejarah masa lalu beliau hadirkan dalam konteks kekinian. Kami diajak menyelami keagungan dan zaman keemasan Islam, namun kami tidak diizinkan larut di dalamnya. Kami selalu diingatkan bahwa kami mempunyai sejarah sendiri, yang harus kami tulis dengan tinta kami sendiri.

 
Leave a comment

Posted by on April 26, 2015 in Filsafat, Peradaban

 

Hierarki Ilmu (Part I)

Bagi sejumlah pemikir muslim, persoalan-persoalan  mendasar dalam pendidikan Islam adalah problem ilmu pengetahuan yang tercermin dalam sistem pendidikan. Problem ini tidak berkaitan dengan masalah buta huruf atau persoalan kebodohan orang awam, tetapi ilmu pengetahuan yang disalahartikan, bertumpang tindih, dan terkacaukan oleh pandangan hidup yang tidak sesuai dengan pandangan hidup Islam. Ilmu dipelajari tanpa landasan epistemologi yang kuat dan sekedar pemenuhan syarat kepada pekerjaan praktis. Menurut al-Attas, permasalahan ini disebutnya sebagai corruption of knowledge dan lemahnya penguasaan umat terhadap ilmu pengetahuan. Dengan bahasa yang berbeda, permasalahan ini juga disebut sebagai krisis epistemologi dan kerancuan berpikir. Al-Attas menegaskan bahwa tantangan terbesar pada masa kini adalah tantangan ilmu pengetahuan, dalam artian ilmu tidak hanya berlawanan dengan kebodohan, tetapi ilmu juga berlawanan dengan ilmu yang tidak sesuai dengan pandangan hidup Islam (Islamic worldview). Menurut al-Attas, bila kerancuan ilmu ini dibiarkan, yang terjadi adalah pemahaman yang salah akan meluas di masyarakat sebagai produk pendidikan yang rancu. Akibat dari dua kekeliruan ini adalah kemunculan pemimpin yang tidak mempunyai akhlak dan kapasitas intelektual dan spiritual yang cukup dan membiarkan kezaliman terjadi begitu saja. Inilah yang disebut al-Attas sebagai ketiadaan adab (the loss of adab). Sedangkan menurut al-Faruqi, krisis yang melanda umat Islam pada dasarnya terletak pada dualisme sistem pendidikan yang ada di dunia Islam. Dualisme itu berwujud pemisahan sekolah agama dan non-agama atau sekedar menambahkan pelajaran non-agama ke sekolah agama. Menurutnya, problem ini tidak bisa diatasi hanya dengan mengakuisisi dan mengadopsi sistem pendidikan asing ke dalam sistem pendidikan Islam seperti yang dilakukan oleh Sayyid Ahmad Khan dan Muhammad Abduh. Pembaharuan model ini dianggapnya tidak memberikan manfaat, sebaliknya hanya membuat umat Islam bergantung kepada model penelitian dan cara kerja asing yang pada aspek-aspek tertentu tidak selaras dengan cara pandang Islam. Dengan bahasa yang berbeda, Nasr menyebut bahwa kekacauan yang melanda pendidikan modern di kebanyakan negara Islam belakangan ini dikarenakan kerancuan kurikulum pendidikan Islam yang disebabkan oleh hilangnya visi hierarki terhadap ilmu pengetahuan yang pada masa lampau dijunjung tinggi oleh sistem pendidikan tradisional. Hilangnya visi hierarki ilmu pengetahuan ini menyebabkan hilangnya asas utama sistem pendidikan di dunia Islam yaitu kehilangan orientasi dan tujuan utama pendidikan Islam. Pada tahap selanjutnya, sistem-sistem pendidikan Islam tersebut hanya melahirkan lulusan-lulusan yang disorientasi terhadap keilmuan secara umum dan hanya mengakibatkan kemunduran umat Islam di berbagai bidang.

Dalam tradisi intelektual Islam, visi hierarki dan hubungan antara satu disiplin ilmu dengan ilmu yang lain yang mewujudkan satu kesatuan dalam satu bangunan ilmu menjadi perhatian para intelektual terkemuka dengan latar belakang keilmuan yang bermacam-macam. Bagi para ilmuwan tersebut, visi hierarki tersebut dianggap penting dalam menempatkan tingkatan ilmu dan untuk mewujudkan kesalingterkaitan satu ilmu dengan ilmu yang lain. Kesalingterkaitan antar berbagai disiplin ilmu ini memungkinkan realisasi kesatuan (tauhid) dalam berbagai disiplin ilmu. Artinya, dalam berbagai disiplin ilmu terdapat nilai kesatuan dan keesaan.

Kembali Nasr menyebutkan bahwa subjek hierarki dan klasifikasi ilmu ini merupakan kunci bagi pemahaman terhadap dimensi utama tradisi keilmuan Islam dan juga sistem pendidikan Islam. Pemahaman akan visi ini juga dimaksudkan untuk mencegah para praktisi pendidikan Islam kontemporer agar tidak melepaskan diri dari kerancuan yang terjadi dalam kurikulum pendidikan saat ini, yang disebabkan pada peniruan buta terhadap model-model Barat.

Visi hierarki ilmu pengetahuan dalam tradisi keilmuan Islam terbentuk oleh pandangan hidup Islam (islamic worldview) dalam memandang status ontologi berbagai realitas wujud. Realitas wujud dalam Islam dipercaya meliputi realitas fisik dan metafisik. Dalam hal ini, para intelektual muslim menyusun hierarki wujud (martabah al-maujudat) berdasarkan keniscayaan wujudnya. Hierarki ini dimulai dari entitas-entitas metafisika, yaitu wujud-wujud yang secara niscaya tidak berhubungan dengan materi dan gerak, dengan Tuhan sebagai puncaknya. Karena Tuhan merupakan wujud niscaya (wajib al-wujud), maka wujud merupakan realitas tertinggi di antara wujud metafisika dan dipandang paling riil, mengingat keberadaan-Nya merupakan sebab bagi keberadaan wujud-wujud yang lain. Hierarki kemudian menurun melalui alam ‘antara’ yang bisa dilihat dari percampuran antara unsur-unsur metafisika dan fisik, yaitu wujud yang bersifat imateri tetapi masih berhubungan dengan materi dan gerak. Wujud ini seperti wujud matematika seperti keberadaan bilangan. Adapun tingkatan yang paling rendah adalah wujud yang berhubungan dengan materi dan gerak, yaitu realitas fisik.

Pandangan terhadap hierarki wujud ini kemudian membawa pengaruh terhadap klasifikasi dan metode ilmu pengetahuan. Para intelektual Islam, dari teolog hingga filosof, dari sufi hingga sejarawan, mencurahkan kemampuan mereka pada hierarki objek pengetahuan tersebut. Berdasarkan realitas-realitas tersebut, mereka mencoba menyusun klasifikasi ilmu yang dijabarkan bukan hanya dari Al-Quran dan Sunnah, tetapi juga yang diwarisi oleh para ilmuwan dan filosof muslim dari peradaban-peradaban terdahulu, seperti Yunani, Persia, dan India. Para sarjana ini berpendapat bahwa membuat katagorisasi ilmu pengetahuan merupakan bentuk keadilan yang merupakan salah satu inti ajaran Islam. Tepatnya, klasifikasi atau kategorisasi ilmu ini adalah usaha sekelompok sarjana untuk menggabungkan berbagai cabang ilmu pengetahuan ke dalam kelompok-kelompok tertentu supaya mudah dipahami.

Dalam hal ini, tercatat beberapa ilmuwan yang secara khusus menulis karya tentang pembahasan ini. Di antara karya-karya yang seringkali dijadikan rujukan adalah: Ih}s}a>’ al-‘ulu>m karya al-Fa>ra>bi>, Ih}ya>’ ‘Ulu>m al-Di>n karya al-Ghaza>li>, Qut}b al-Di>n al-Shi>ra>zi> dalam Durrat al-Ta>j, dan Ibn Khaldun dalam al-Muqaddimah. Selain karya-karya tersebut, sejumlah ilmuwan muslim lain juga menulis pembahasan ini secara intensif, di antaranya: al-Kindi> dalam Fi> Aqsa>m al-‘Ulu>m, Abu> Sahl al-Masihi> dalam Kita>b fi> As}na>f al-‘Ulu>m al-H}ikmiyyah, Ikhwa>n al-S{afa> dalam Rasa>il Ikhwa>n al-S}afa>, Mafa>tih} al-‘Ulu>m karya al-Khawa>rizmi>, al-Shifa>’ dan Aqsa>m al-‘Ulu>m al-‘Aqliyyah karya Ibn Si>na>, Irsha>d al-Qa>s}id ila> Asna> al-Maqa>s}id oleh al-Akfa>i, Shams al-Di>n al-‘Amu>li> dalam Nafa>is al-Funu>n. Banyaknya karya tersebut cukup menjadi bukti bahwa pembahasan mengenai klasifikasi ilmu merupakan hal yang penting dalam epistemologi Islam.

Dalam sejarah pendidikan Islam, pengaruh klasifikasi ilmu terhadap kurikulum pendidikan Islam tercermin dalam klasifikasi al-Ghaza>li> dalam ilmu pengetahuan ini telah menjadi acuan bagi lembaga-lembaga pendidikan Islam dan program klasifikasi ilmu agama yang dibuatnya merupakan kurikulum pada pendidikan madrasah-madrasah dari aliran Sunni pada abad ke-11. Pada madrasah pertama, madrasah Nizamiyah ini pula, al-Ghaza>li> pernah menjadi pemimpin sekaligus guru bagi para murid yang ingin belajar ilmu-ilmu agama (shar’i>) selama dua puluh lima tahun. Maka tidak mengherankan bila klasifikasi yang disusun al-Ghaza>li> memiliki keterkaitan erat dengan kurikulum dari madrasah ini.

Pada perkembangannya, klasifikasi yang disusun dan diperbaharui oleh para ilmuwan berikutnya untuk disesuaikan dengan kebutuhan dan perkembangan zaman masyarakat muslim. Salah satu contoh klasifikasi yang dibuat setelah al-Ghaza>li> adalah klasifikasi yang dibuat oleh Qut}b al-Di>n al-Shi>ra>zi> yang membagi ilmu menjadi ilmu filosofis dan ilmu non-filosofis. Pembaharuan yang dilakukan oleh Qut}b al-Di>n al-Shi>ra>zi> dilatari oleh serangan al-Ghaza>li> atas para filosof yang menjadikan filsafat di dunia Islam menjadi kurang rasionalistik. Pembaharuan yang sama juga dilakukan melalui sistem pendidikan.

Salah satu gerakan yang dilakukan oleh beberapa pakar pendidikan Islam adalah Konferensi Dunia Pertama tentang Pendidikan Islam yang diselenggarakan di Mekah pada tahun 1977 dan diikuti konferensi-konferensi serupa membahas berbagai permasalahan umat Islam, terutama mengenai krisis pendidikan di dunia muslim dan merekomendasikan penyusunan kurikulum pendidikan Islam yang berdasarkan pada pembaharuan klasifikasi ilmu. Selain tujuan tersebut, tujuan lain dari diselenggarakannya konferensi-konferensi tersebut adalah untuk memantapkan dan meningkatkan mutu pendidikan yang mengalami degradasi setelah dominasi dan invasi Barat ke dunia Islam di berbagai negara. Bagi para pakar pendidikan Islam yang hadir ketika itu, upaya ini dianggap sebagai salah satu solusi bagi permasalahan kemunduran umat Islam dan juga berbagai krisis multidimensi yang melanda kehidupan manusia pada umumnya. Para ilmuwan tersebut bersepakat bahwa permasalahan yang dihadapi umat Islam atas kemundurannya di berbagai bidang harus segera dipecahkan melalui lembaga pendidikan. Pendidikan dianggap salah satu sarana terpenting dalam pembangunan sumber daya manusia dan penanaman nilai-nilai kemanusiaan.

Langkah pertama untuk menangani permasalahan ini adalah dengan pendefinisian kembali tujuan pendidikan sebagai pencapaian pertumbuhan yang seimbang dalam kepribadian manusia secara total melalui latihan semangat spiritual, intelek, rasional, rasa, dan kepekaan diri. Kemudian langkah berikutnya adalah penjenisan kembali (reclassification) pengetahuan yang berdasar pada dua sumber, wahyu dan akal. Yang pertama disebut pengetahuan abadi (perrenial knowledge) yang didasarkan pada wahyu dan semua yang dapat ditarik dari wahyu. Sedangkan jenis ilmu yang kedua adalah pengetahuan yang “diperoleh” (acquired knowledge) yang di dalamnya termasuk ilmu-ilmu sosial, alam, dan terapan yang mengalami pertumbuhan dan perkembangan. Klasifikasi ini merevisi cakupan ilmu pengetahuan yang umumnya dipegang oleh “pendidikan Islam” sebelum Konferensi Dunia Pertama tentang Pendidikan Islam yang berlangsung pada tahun 1977. Kala itu, istilah “pendidikan Islam” hanya mengacu pada pengajaran teologis atau pengajaran al-Quran, Hadis, dan fiqih saja, sehingga disiplin ilmu yang lain dianggap berada di luar cakupan pendidikan Islam. Dari konferensi ini, terutama pada Konferensi Dunia Kedua tentang Pendidikan Islam yang berlangsung pada tahun 1980 di Islamabad disusunlah beberapa rekomendasi yang bersifat praktis dalam merealisasikan terlaksananya program kurikulum pendidikan Islam yang sesuai dengan definisi pendidikan Islam.

 
Leave a comment

Posted by on May 15, 2014 in Filsafat

 

Prinsip Epistemologi Islam

imagessss

Allah berfirman:

ﺇﻗﺭﺃ ﺒﺎﺴﻡ ﺭﺒﻙ ﺍﻠﺫﻯ ﺨﻠﻕ. ﺨﻠﻕ ﺍﻹﻨﺴﺎﻥ ﻤﻥ ﻋﻟﻕ .إﻗﺭﺃ ﻭ ﺭﺒﻙ ﺍﻷﻜﺭﻡ. ﺍﻠﺫﻯ ﻋﻠﻡ ﺒﺎﻠﻗﻠﻡ. ﻋﻠﻡ ﺍﻹﻨﺴﺎﻥ ﻤﺎ ﻠﻡ ﻴﻌﻠﻡ.

Artinya: “Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu Yang mencipyakan. Dia telah menciptakan manusia dari ‘alaq. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha Pemurah. Yang mengajar dengan pena, mengajar manusia apa yang tidak diketahuinya.” (QS. Al-‘Alaq [96]: 1-5).

Dalam ayat tersebut –yang merupakan ayat pertama turun- terdapat kalimat perintah yang tegas di awal pembicaraan. “Iqra`!” [bacalah]. Pada perintah tersebut, mulailah ajaran Islam –yang merupakan ajaran penerus para nabi terdahulu- muncul. Dalam pada itu pula, kelima ayat ini dijadikan oleh sebagian ilmuwan sebagai ayat prinsip epistemologi [teori-teori pengetahuan] dalam Islam. Read the rest of this entry »

 
Leave a comment

Posted by on July 25, 2013 in Filsafat

 

Tags: ,

Konsep Ilmu Pengetahuan dalam Islam

images
Prolog
Kemajuan peradaban adalah karena kemajuan tradisi keilmua, maka untuk membangun kembali suatu peradaban tertentu, yang harus dilakukan untuk pertama kali adalah membangun kembali tradisi keilmuan tersebut. Kita bisa menengok kembali sejarah Islam beberapa abad silam. Dalam sejarah tersebut, tertoreh tinta emas Islam menyinari peradaban dunia dengan kemajuan tradisi keilmuan ketika itu. Hal ini bukan untuk sekedar bernostalgia akan kejayaan Islam, lantas kemudian menjadikan kita bangga dan lupa diri. Setidaknya dengan mempelajari sejarah, kita bisa mengambil pelajaran berharga darinya. Read the rest of this entry »

 
Leave a comment

Posted by on July 20, 2013 in Filsafat, Sains

 

Tags:

ADAKAH SAINS ISLAM?

indexAbstrak

Ada anggapan dari sementara ilmuwan –baik ilmuwan non muslim maupun ilmuwan Muslim- bahwa wacana sains Islam adalah hal utopia dan tidak jelas. Bahkan sebagian ilmuwan menganggap bahwa sains Islam itu tidak ada.

Namun, bagi sebagian penggiat sains Islam, wacana sains Islam adalah suatu keharusan. Sains Islam adalah kebutuhan bagi umat Islam pada masa saat ini. Mereka terus berusaha untuk mewacanakan sains Islam sebagai salah satu alternatif bagi krisis sains modern.

Keyword: Sains Islam, Worldview

Read the rest of this entry »

 
Leave a comment

Posted by on July 20, 2013 in Filsafat, Peradaban, Sains

 

Tags: ,

ETIKA ISLAM DI DUNIA MODERN

Banyak orang mempertanyakan, apakah etika Islam masih bisa diharapkan peranannya di dunia yang serba modern ini. Pertanyaan lain pun muncul, apakah manusia yang modern dan terus berkembang ini masih membutuhkan etika Islam dalam kehidupannya. Semua pertanyaan-pertanyaan tersebut bermuara pada satu pokok, apakah ada relevasnsi antara etika Islam dan kehidupan modern saat ini? Kalau ada, sejauh mana relevansi itu?

Pada tulisan kali ini, penulis memilih jawaban positif atas pertanyaan-pertanyaan di atas dengan bebrapa argumen yang akan penulis kemukakan di paragraph-paragraf berikutnya. Read the rest of this entry »

 
Leave a comment

Posted by on June 24, 2013 in Filsafat

 

Tags:

SUDAHKAH KITA BERAKHLAK?

ethics-and-compliance

Banyak orang beranggapan bahwa ketika seseorang belajar etika atau akhlak, maka secara otomatis orang tersebut akan mempunyai akhlak yang mulia. Dan karena tujuan itu pula, seseorang menumpukan tujuannya dalam belajar akhlak.

Namun, pengetahuan akhlak tidak serta merta beriringan lurus dengan kepemilikan akhlak. Seseorang yang mempelajari ilmu akhlak atau ilmu etika tidak bisa dipastikan bahwa ia pasti akan berakhlak atau mempunyai akhlak. Read the rest of this entry »

 
Leave a comment

Posted by on June 21, 2013 in Filsafat

 

Tags: ,

 
Life is wonderful

*hadianirahmi*

SUZIE ICUS PERSONAL BLOG

Education is not preparation for life; education is life itself - John Dewey

Indonesia Proud

Bangunlah Jiwanya...Bangunlah Badannya...Untuk Indonesia Raya!

Laa Tahzan..

Allah senantiasa bersama kita...

Merangkai Inspirasi

Bulu pena akan membawamu terbang, dengan kata-kata yang kau tulis seperti halnya bulu menerbangkan burung menuju langit. (Leonardo Da Vinci)

Blog Ayunda Damai

Bermain, Belajar dan Bercerita

Arip Blog

Maka inilah sabda kearifanku yang arip!*

WeeOhana

Ohana Means Family, Family Means Nobody gets left behind!

Erasmus+ scholarship

Quality and Excellence in European Higher Education

Belajar Kehidupan

Hitam Putih Hidup

Cacatan Hari Hari

AQIED's Things

SAVING MY MEMORIES

another home of my mind

liandamarta.com

all about traveling, culinary and love-life story

CATATAN HATI

Torehan Kata Dari Sejuta Asa Tentang Kamu; Cinta

Kala Ibu Menulis

dari rumah ini kami tumbuh bersama....

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 947 other followers