RSS

Berani Berbeda: Belajar dari Prof. Dr. Mulyadhi Kartanegara

26 Apr

Bersama Pak Mul dan Nanik

“Zuhriyyah, Don’t be afraid to be different!”

Itulah pesan Prof. Mulyadhi Kartanegara yang dituliskannya di sampul depan buku Reaktualisasi Tradisi Ilmiah Islam (Jakarta: Baitul Ihsan, 2006) milik saya. Mendapatkan pesan khusus dari beliau dengan tulisan tangan adalah hal yang istimewa bagi saya, karena sejak lama saya menginginkan untuk menjadi murid beliau.

Saya ingat, pertama kali saya mengenal nama beliau saat saya kuliah S1 di Institut Ilmu Al-Qur’an dengan mata kuliah filsafat Islam dan buku yang menjadi bahan bacaan utama saya adalah buku saku Gerbang Kearifan: Sebuah Pengantar Filsafat Islam (Jakarta: Lentera Hati, 2006). Sejak membaca buku itu, saya langsung terkesima dengan gaya tulis beliau yang ringan, santai, dan mengalir meskipun tema yang dibahas adalah filsafat. Saya yang kala itu baru pertama kali berkenalan dengan filsafat dibuat jatuh cinta dengannya melalui buku saku tersebut. Sejak itu ketertarikan saya kepada filsafat pun mulai tumbuh dan terus berkembang. Untuk hal ini, saya merasa berhutang kepada beliau karena telah membawa saya pada dunia filsafat dengan sangat indah.

Sejak saat itu, saya sangat berharap untuk bisa belajar langsung kepada beliau. Bagi saya, belajar dari tulisan beliau saja sudah membuat saya ‘hidup,’ maka belajar langsung pastilah membuat saya semakin ‘hidup’ dan menyelami luasnya lautan ilmu. Kesempatan itu pun datang ketika kemudian saya kuliah lagi di ICAS dan bertemu dengan dosen-dosen yang bagi saya sangat istimewa dalam keilmuannya, salah satunya adalah Prof. Mulyadhi Kartanegara.

Beberapa mata kuliah yang saya ikuti dari beliau adalah Sejarah Peradaban Islam dan Sejarah Filsafat Islam. Saya kemudian juga mengikuti kajian seri Filsafat dan Sains Islam di lembaga yang beliau pimpin, CIPSI (Center of Islamic Philosophy Studies and Information). Dan terakhir saya berguru langsung pada beliau saat kuliah di Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah.

Kemudian, apa saja yang saya pelajari dari beliau?

Pertama, filsafat itu mudah. Itu kesan yang paling pertama saya tangkap dari visi hidup beliau, yaitu membuat filsafat itu mudah dipahami. Ini bukan lagi bicara halal-haramnya filsafat, seperti yang diperdebatkan sebagian kelompok. Filsafat dikenalkan beliau dengan bahasa yang ringan dengan tetap menyajikan ide-ide yang ‘khas filsafat.’ Di antara buku filsafat yang ditulis dengan gaya tulis yang ringan adalah Gerbang Kearifan (Jakarta: Lentera Hati, 2006) yang menyajikan sebuah pengantar filsafat Islam yang utuh untuk sebuah buku saku dan buku pengantar. Dibanding buku-buku pengantar filsafat Islam yang lain, buku ini lebih mudah dipahami karena sub-sub judul yang disusun secara sistematis, mulai dari aliran-aliran filsafat Islam, tema-tema utama filsafat Islam, filsafat dan hubungannya dengan yang lain, dan diakhiri dengan masa depan kajian filsafat Islam. Kita bisa membandingkan sub-sub judul ini dengan buku-buku pengantar filsafat Islam sejenis yang biasanya disusun berdasarkan rentetan sejarah filsafat Islam yang berisi beberapa tokoh filsuf muslim. Dengan sub-sub judul seperti yang disusun Prof. Mulyadhi, pembaca akan diajak untuk mengetahui cakupan filsafat Islam secara lebih luas, meskipun buku tersebut bersifat pengantar (yang butuh kajian yang lebih dalam). Buku filsafat lain yang ditulis dengan gaya ringan adalah Menyibak Tirai Kejahilan: Pengantar Epistemologi Islam (Bandung: Mizan, 2003). Dalam buku ini, pembahasan tentang prinsip-prinsip epistemologi Islam dengan gaya mendongeng. Bisa Anda bayangkan bagaimana rasanya kalau kita membaca buku dongeng, pasti Anda akan dibawa pada satu alur cerita ke cerita lain secara berurutan, dan di buku ini, cerita tersebut adalah tentang tema-tema epistemologi Islam, seperti sains, ilmu, dan opini, dilanjutkan dengan sains, filsafat, dan agama, kemudian dilanjutkan dengan pembahasan indra, akal, dan hati. Pembahasan kemudian dilanjutkan dengan status dan basis ontologi objek ilmu, metode-metode ilmiah, yang disempurnakan dengan tema pengalaman mistik (irfan). Buku ini merupakan kelanjutan dari buku sebelumnya yang merupakan refleksi pengembaraan intelektual beliau yang berjudul Menembus Batas Waktu: Panorama Filsafat Islam (Bandung: Mizan, 2002). Buku yang terakhir ini bahkan ditulis dengan gaya buku harian yang sangat mengalir dan bisa dipastikan bila Anda membacanya, Anda bisa tidak menyadari bahwa Anda sedang membaca buku filsafat.

Hal kedua yang saya pelajari dari beliau adalah kebanggan menjadi seorang muslim. Ini bukan sekedar kebanggaan atas sejarah masa lampau atau romantisme kejayaan Islam masa lampau. Lebih dari itu, apa yang beliau lakukan, baik dalam mengajar maupun dalam tindakan praktis, seperti penelitian, penerjemahan karya-karya ulama masa lampau, dan kajian-kajian yang beliau selenggarakan, semua menjadikan wajah sejarah Islam yang sangat kaya. Bahwa sejarah Islam pernah begitu kaya dan menjadi umat terdepan dalam peradaban. Tidak seperti dosen lainnya yang cukup berhenti pada penyampaian sejarah kejayaan masa lampau, Prof. Mulyadhi mengajak kami, para mahasiswa dan para peneliti untuk melangkah selangkah lebih maju terhadap sejarah kejayaan masa lampau. Di antaranya meneliti kembali latar belakang dari kemajuan tersebut (yang ditulis beliau dalam satu buku khusus, yaitu Reaktualisasi Tradisi Ilmiah Islam, Jakarta: Baitul Ihsan, 2006). Selanjutnya beliau mengajak para peneliti untuk mengklasifikasi para ilmuwan masa lampau yang ternyata sangat banyak dan sayangnya hanya sedikit saja yang ditulis para sejarawan (di penelitian ini saya sempat menjadi salah satu peneliti yang dikoordinir beliau. Sayangnya proyek penelitian ini tidak berlanjut karena ada kendala teknis). Selain itu, beliau juga mengajak beberapa koleganya yang ahli bahasa untuk menerjemahkan beberapa karya klasik, salah satunya adalah kitab Rasa’il Ikhwan al-Shafa’. Kitab ini memuat informasi tentang berbagai disiplin ilmu pengetahuan yang telah berkembang di dunia Islam pada sekitar abad kesepuluh dan sebelas, seperti matematika, etika, logika, fisika psikologi dan agama dalam 52 risalah ilmiah. Hal lain yang beliau lakukan tanpa mengenal lelah adalah mensosialisasikan semua hasil kajian itu kepada kalangan masyarakat luas, bahwa sejarah Islam sangat kaya dan semua itu bisa dicapai kembali dengan mempelajari sejarah, mencatat hal-hal yang patut dijadikan pelajaran, tidak mengulangi kesalahan sejarah, dan melanjutkan hal-hal yang dilakukan para pendahulu dengan tetap menyesuaikan keadaan tantangan masa kini.

Ketiga, keteguhan dalam berjuang. Hal yang saya ingat dari pesan beliau adalah menemukan visi hidup dan kemudian memegang teguh visi tersebut untuk terus diperjuangkan. Beliau berkata bahwa visi hidup beliau adalah menghidupkan kembali tradisi ilmiah dan filsafat Islam. Beliau sangat teguh dalam memperjuangkan visi tersebut kendati dalam keadaan ‘sendiri.’ Beliau beberapa kali bercerita bahwa upaya beliau dalam mengintegrasikan ilmu seringkali disalahpahami atau bahkan diremehkan dan dianggap sesuatu yang mustahil dilakukan dan sekedar romantisme masa lalu. banyak orang yang berpikiran bahwa ilmu yang ada dan menyebar di dunia pendidikan Islam itu tidak bermasalah dan netral. Namun beliau menekankan bahwa ilmu itu tidak netral dan mempunyai nilai. Tantangan ilmuwan muslim adalah mengenal nilai-nilai yang tidak sesuai dengan ajaran Islam, seperti positivisme, sekularisme, dan isme-isme lain untuk kemudian dieliminasi sehingga suatu disiplin ilmu itu benar-benar sesuai dengan pandangan hidup Islam (islamic worldview). Dalam hal itulah saya bisa memahami pesan yang beliau tuliskan di buku saya yang saya kutip di awal tulisan ini.

Pelajaran keempat yang bisa saya ambil dari beliau adalah membumikan filsafat dalam kehidupan praktis. Artinya mempelajari filsafat tidak melulu berkutat pada konsep-konsep melangit seperti konsep asholatul wujud, asholatul mahiyah, dan lain-lain. Salah satu tema filsafat Islam yang saat ini banyak menjadi perhatian adalah psikologi Islam. Beliau menjelaskan bahwa sebagai seorang muslim, sudah seharusnya konsisten dengan prinsip-prinsip Islam tentang jiwa manusia yang di dalamnya mengafirmasi status ontologi jiwa, ruh, akal, dan lainnya. Pilihan untuk konsisten ini hanya bisa dilakukan dengan mempelajari psikologi filsafat Islam atau peikologi sufistik yang dikembangkan para ilmuwan muslim masa lampau.

Tema lain dari filsafat Islam yang bermanfaat dalam dunia praktis dan banyak dikembangkan pada masa kini adalah filsafat etika, psikologi pendidikan Islam, teologi, dan lainnya. Tema-tema ringkas ini dituliskan oleh Prof. Mulyadhi di buku Mozaik Khazanah Islam: Bunga Rampai dari Chicago (Jakarta: Paramadina, 2000), seperti tema Seni Menepis Kesedihan dan Memelihara Kesehatan Jiwa untuk tema etika, Konsep Pendidikan Anak dan Psikologi Anak dalam Pandangan al-Jawziyah untuk tema psikologi pendidikan Islam, dan lainnya.

Hal kelima yang bisa saya pelajari dari beliau adalah semangat menghidupkan tradisi. Oleh beberapa peneliti, ilmuwan yang menghidupkan tradisi disebut tradisionalis. Dalam hal ini kita bisa menyebut beberapa ilmuwan yang masuk dalam kategori tradisionalis, seperti Seyyed Hossein Nasr dan S.M. Naquib al-Attas. Saya pribadi bisa menemukan semangat tradisionalis ini pada diri Prof. Mulyadhi. Beliau menjunjung tinggi nilai-nilai tradisional yang memang masih relevan dengan dunia masa kini dan layak dijadikan solusi dari permasalahan-permasalahan dunia modern, seperti dehumanisasi, sekularisasi, dan bahkan krisis multidimensi. Beberapa tulisan beliau dalam Pengantar Studi Islam, beliau menjelaskan beberapa nilai tradisional yang relevan dalam permasalahan masa kini, seperti konsep psikologi sufistik untuk persoalan dehumanisasi, konsep ekonomi Islam sebagai solusi dari persoalan rumah tangga, seperti kenakalan remaja, tingkat perceraian, dan lainnya, dan konsep politik Islam sebagai sulosi persoalan perpolitikan.

Hal terakhir yang saya pelajari dari beliau adalah sikap rendah hati. Guru, bagi saya tidak sekedar mentransfer pengetahuan melalui tulisan atau penjelasan di kelas. Lebih dari itu, guru yang sejati selalu mengajarkan ilmu melalui teladan dan sikap. Dalam hal ini, saya melihat beliau sebagai guru teladan yang sejati. Beliau sangat rendah hati dengan ilmunya, selalu bersikap terbuka kepada semua mahasiswanya, tidak berbangga diri dengan kedudukannya, dan selalu menerima kami, para mahasiswanya yang datang untuk berkonsultasi. Saya teringat dengan kajian saya tentang adab murid dan guru di mana seorang guru hanya bisa mendapatkan penghormatan bila mereka memiliki otoritas secara akademik dan juga teladan moral yang konsisten.

Hal ini sejalan dengan rumusan yang menekankan metode penekanan pada pembentukan akhlak terpuji dan pemulihan akhlak yang rusak. Menurut al-Ghazali, cerminan dari insan kamil adalah seorang yang memiliki akhlak yang sempurna pula. Dalam hal ini, al-Ghazali menjadikan guru sebagai figur sentral dalam segala aspek pendidikan di manapun ia berlaku. Ini dikarenakan tiada profesi apapun di dunia ini yang lebih mulia dari seorang guru dan pendidik, yaitu orang yang menjadi perantara antara Tuhan dan makhluk-Nya. Ia menjadi perantara yang mengantarkan murid-muridnya pada Tuhannya. Dan saya melihat kriteria ini pada diri guru saya, Prof. Mulyadhi Kartanegara.

Akhirnya, saya merasa beruntung karena pernah berguru dan pernah mendapat bimbingan langsung dari beliau, terutama dalam bidang sejarah. Beliau adalah profesor yang benar-benar memahami hakekat sejarah, sejarah yang tidak hanya berupa sekumpulan data yang tersusun dalam pojok-pojok perpustakaan dan deretan angka-angka. Sejarah adalah catatan peristiwa-peristiwa berharga yang telah terjadi, yang darinya banyak pelajaran yang bisa dimanfaatkan. Sejarah keemasan berarti memberikan pelajaran bagaimana suatu bangsa bisa mencapai kemajuan serta proses-proses yang telah ditempuhnya. Sebaliknya, sejarah keterpurukan memberikan pelajaran bahwa ada kesalahan yang pernah dibuat, sehingga dengan mempelajarinya, kesalahan-kesalahan tersebut tidak akan diulang kembali.

Beliau menghadirkan sejarah yang hidup kepada kami. Sejarah masa lalu beliau hadirkan dalam konteks kekinian. Kami diajak menyelami keagungan dan zaman keemasan Islam, namun kami tidak diizinkan larut di dalamnya. Kami selalu diingatkan bahwa kami mempunyai sejarah sendiri, yang harus kami tulis dengan tinta kami sendiri.

 
Leave a comment

Posted by on April 26, 2015 in Filsafat, Peradaban

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
Bintang Satu

Menulis untuk berbagi

The Neighborhood

It is known as a blog, we call it The Show

Syarifah Annisa

Learn to be "All Umm Madrasatul 'Ula"

RIZKY FAUZI PRESIDENT HAMIKU

SUPPORT RIZKY FAUZI SUCCESS with SHARE IT | Setelah DIBACA timbal baliknya harus di-SHARE soalnya gak gratis...

eqoxa

surat, curhat dan maksiat

Kata MiQHNuR

Berkata Dengan Semangat, Beda dan Tawa

Luckty Si Pustakawin

We live the life of an unfinished novel, still waiting to be written. –Absolute Stephanie-

Kala Ibu Menulis

dari rumah ini kami tumbuh bersama....

Life is wonderful

*hadianirahmi*

SUZIE ICUS PERSONAL BLOG

Education is not preparation for life; education is life itself - John Dewey

Indonesia Proud

Bangunlah Jiwanya...Bangunlah Badannya...Untuk Indonesia Raya!

Laa Tahzan..

Allah senantiasa bersama kita...

Merangkai Inspirasi

Bulu pena akan membawamu terbang, dengan kata-kata yang kau tulis seperti halnya bulu menerbangkan burung menuju langit. (Leonardo Da Vinci)

Blog Ayunda Damai

Bermain, Belajar dan Bercerita

%d bloggers like this: