RSS

ETIKA ISLAM DI DUNIA MODERN

24 Jun

Banyak orang mempertanyakan, apakah etika Islam masih bisa diharapkan peranannya di dunia yang serba modern ini. Pertanyaan lain pun muncul, apakah manusia yang modern dan terus berkembang ini masih membutuhkan etika Islam dalam kehidupannya. Semua pertanyaan-pertanyaan tersebut bermuara pada satu pokok, apakah ada relevasnsi antara etika Islam dan kehidupan modern saat ini? Kalau ada, sejauh mana relevansi itu?

Pada tulisan kali ini, penulis memilih jawaban positif atas pertanyaan-pertanyaan di atas dengan bebrapa argumen yang akan penulis kemukakan di paragraph-paragraf berikutnya.

Pengertian Etika Islam

Dalam banyak pembahasan, istilah yang sering dipakai untuk etika Islam adalah akhlaq. Dalam al-Qur`an, kata ini pula yang digunakan sebagai definisi etika. Pun dalam hadis popular tentang pengutusan Nabi Muhammad SAW, kata ini juga yang digunakan. Kata ini adalah jamak dari khulq atau khalq, yang mempunyai satu akar kata dengan kata khaliq, dan makhluq. Dalam hal ini, al-Ghazali mendefinisikan khalq sebagai citra karakter, moral, etika lahiriah. Sedangkan citra batiniah karakter, moral, dan etika batiniah didefinisikan dari khulq. [Al-Ghazali, Ihya` ‘Ulum al-Din, Juz III]

Adapun kaitan khulq dengan khaliq dan makhluq sangatlah erat, tidak hanya dari kata lahiriah saja. Lebih dari itu, akhlak yang ada [akhlak manusia] haruslah sesuai dengan tuntunan dan tuntutan sang Khalik. Akhlak juga harus ada persesuaian dengan makhluk yang mengisyaratkan adanya sumber akhlak dari ketetapan manusia bersama atau berdasarkan ‘urf [tradisi]. Artinya, dalam kehidupan ini, manusia harus berakhlak mulia, baik menurut tuntunan Allah, maupun menurut ukuran manusia. [Abdul Mujib, Kawasan dan Wawasan Studi Islam]

Sedangkan definisi terminologi akhlak adalah gabungan antara citra batin dan citra lahir manusia yang diciptakan Allah sejak lahir [fitrah] serta kebiasaan manusia yang berasal dari hasil integrasi antara karakter manusiawi dengan aktivitas-aktiitas yang diusahakan. Kebiasaan ini ada yang teraktualisasi menjadi suatu tingkah laku lahiriah dan  ada juga yang masih terpendam. [Mansur Ali Rajab, Ta`ammulat fi Falsafat al-Akhlaq] Dengan demikian, yang dimaksud dengan akhlak adalah keinginan, minat, kecenderungan, dan pikiran [citra diri] manusia yang bersumber dari dalam diri manusia itu sendiri [fitrah] dan dari kebiasaan yang diusahakan, yang kesemuanya itu terjadi dengan kehendak dan kesadaran manusia itu sendiri.

Pada definisi lain, akhlak juga sering dipakai dalam konteks psikologi kepribadian Islam, yaitu sebagai kajian Islam yang berhubungan dengan aspek-aspek dan perilaku kejiawaan manusia, agar secara sadar ia dapat membentuk kualitas diri yang lebih sempurna dan mendapatkan kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat. [Abdul Mujib, Nuansa-nuansa Psikologi Islam] Maka oleh sebagian kelompok, ilmu akhlak seringkali diidentikkan dengan psikologi Islam. Hal ini didasarkan pada kesamaan domain kajian, yaitu tingkah laku kejiawaan manusia. Meski untuk membuktikan kesimpulan ini diperlukan kajin yang lebih mendalam dan serius.

Sisi-sisi Manusia

Dasar kehidupan biologis manusia dalam diri manusia pada hakekatnya sama dengan yang ada pada spesies hewan. Adapun tugas agama adalah untuk menunjukkan manusia agar melampaui insting kehewanannya. Agama pula yang menuntun manusia agar berkembang dan tumbuh, tidak hanya dalamsegi kuantitas [seperti tumbuhnya fisik] saja, tetapi juga tumbuh dalam segi kualitas, seperti kualitas jiwa dan ruhnya. Hal ini akan terus berjalan seiring dengan berjalannya kehidupan manusia.

Meskipun zaman telah menunjukkan kemajuan yang luar biasa pada beberapa abad terakhir ini, segala citra manusia tetaplah sama. {Syed Naquib al-Attas, Prolegomena to The Methaphysic of Islam] Kemajuan yang ada hanyalah kemajuan semu yang dialami manusia. Bahkan bisa dikatakan kemajuan yang terjadi hanya pada sains dan teknologi saja. Adapun manusia dan kepribadiannya, dari dulu hingga kini, tetaplah sama. Sehingga perangkat-perangkat yang dibutuhkan oleh ke”manusia”annya tetaplah sama dari dahulu hingga saat ini. Hal ini bisa dilihat dari beberapa aspek ke”manusia”an yang terjadi dari waktu ke waktu, mengiringi perjalanan kehidupan manusia itu sendiri. Nabi Ibrahim mencari Tuhan. Hal yang sama juga terjadi pada masa kini. Pembunuhan putera Adam telah meimbulkan kecemasan dan hukuman. Dan hal yang sama pun terjadi pada masa kini, yaitu tiada pembenaran bagi para pembunuh yang melakukan pembunuhan secara sengaja dalam keadaan normal.

Akhlak dan Manusia Modern

Oleh karena itu, akhlak [etika Islam] relevan sebagai panduan dan perangkat bagi kehidupan manusia modern. Bahkan bisa dikatakan, bahwa tingkat kerelevanan sangatlah tinggi. Karena seperti yang dijelaskan di atas, manusia pada masa kapanpun tetap membutuhkan perangkat-perangkat sebagai panduan dalam tiap sisi-sisi kehidupannya.

Bahkan untuk zaman serba modern saat ini, dimana ruang dan waktu bisa sedemikian mudah untuk dilipat. Kemajuan sains dan teknologi dengan segala sisi positifnya, juga mempunyai sisi negatif yang menjadi tantangan manusia modern saat ini. Artinya, manusia modern mempunyai kebutuhan lebih pada perangkat-perangkat, yang boleh jadi pada masa terdahulu perangkat-perangkat ini masih sederhana.

Sebagaimana telah disebutkan, bahwa etika Islam tidak hanya berbicara tentang perilaku manusia saja. Ia juga meliputi segala hal yang menyangkut manusia sebagai diri dan pribadi berkaitan dengan dirinya yang kemudian membawanya pada Sang Pencipta. Etika Islam juga membahas tentang kaitan manusia dengan alam sekitar yang merupakan manifestasi dari-Nya.

Sehingga dengan etika Islam, manusia modern bisa merumuskan kembali pandangan hidupnya berdasarkan hierarki ke”diri”annya yang saling terkait dengan Sang Pencipta serta alam sekitar. Pandangan yang dimaksud adalah pandangan atas kaitan yang erat di antara realitas-realitas yang ada. Di mana semua bersumber dari Yang Esa Maha Suci. Sehingga segala realitas tersebut haruslah diperlakukan pula secara suci.

Dengan pandangan yang menyeluruh inilah, manusia diharapkan bisa mengobati krisis multidimensional yang sedang melanda hampir di sebagian besar masyarakat modern.

Sumber Bacaan

Abdul MUjib dan Jusuf Mudzakir, Nuansa-nuansa Psikologi Islam

——-, Kawasan dan Wawasan Studi Islam

K. Bertens, Etika

Quraish Shihab, Wawasan al-Qur`an

Syed M. Naquib al-Attas, Islam dan Sekularisme

Seyyed Hossein Nasr, Ensiklopedi Teamtis Spiritual Islam

 
Leave a comment

Posted by on June 24, 2013 in Filsafat

 

Tags:

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
Bintang Satu

Menulis untuk berbagi

The Neighborhood

It is known as a blog, we call it The Show

Syarifah Annisa

Learn to be "All Umm Madrasatul 'Ula"

RIZKY FAUZI PRESIDENT HAMIKU

SUPPORT RIZKY FAUZI SUCCESS with SHARE IT | Setelah DIBACA timbal baliknya harus di-SHARE soalnya gak gratis...

eqoxa

surat, curhat dan maksiat

Kata MiQHNuR

Berkata Dengan Semangat, Beda dan Tawa

Luckty Si Pustakawin

We live the life of an unfinished novel, still waiting to be written. –Absolute Stephanie-

Kala Ibu Menulis

dari rumah ini kami tumbuh bersama....

Life is wonderful

*hadianirahmi*

SUZIE ICUS PERSONAL BLOG

Education is not preparation for life; education is life itself - John Dewey

Indonesia Proud

Bangunlah Jiwanya...Bangunlah Badannya...Untuk Indonesia Raya!

Laa Tahzan..

Allah senantiasa bersama kita...

Merangkai Inspirasi

Bulu pena akan membawamu terbang, dengan kata-kata yang kau tulis seperti halnya bulu menerbangkan burung menuju langit. (Leonardo Da Vinci)

Blog Ayunda Damai

Bermain, Belajar dan Bercerita

%d bloggers like this: