RSS

SUDAHKAH KITA BERAKHLAK?

21 Jun

ethics-and-compliance

Banyak orang beranggapan bahwa ketika seseorang belajar etika atau akhlak, maka secara otomatis orang tersebut akan mempunyai akhlak yang mulia. Dan karena tujuan itu pula, seseorang menumpukan tujuannya dalam belajar akhlak.

Namun, pengetahuan akhlak tidak serta merta beriringan lurus dengan kepemilikan akhlak. Seseorang yang mempelajari ilmu akhlak atau ilmu etika tidak bisa dipastikan bahwa ia pasti akan berakhlak atau mempunyai akhlak.

Orang yang berakhlak bukanlah orang yang mempunyai atau menguasai ilmu akhlak atau ilmu etika. Orang yang berakhlak juga bukan orang yang menghafal teori-teori akhlak. Orang yang berakhlak tidak juga orang yang pandai menilai moral atau akhlak orang lain. Pun, orang berkhalak tidak hanya orang yang bila berjalan di depan orang tua menundukkan kepala. Bukan pula orang yang bila berbicara dengan suara pelan, dan lain-lainnya.

Akhlak adalah permasalahan jiwa. Akhlak bukan permasalahan menundukkan kepala, permasalahan suara yang sopan, serta bukan permasalahan menyapa dan bersalaman dengan orang yang ditemui. Akhlak sama sekali tidak berhubungan dengan semua itu. Karena pada hakekatnya, akhlak adalah permasalahan jiwa, intitas immateri yang khas dimiliki oleh manusia.

Seseorang yang berakhlak adalah seseorang yang berjiwa sehat. Artinya, ukuran berakhlak tidaknya seseorang tidak dapat diukur dari tindak-tanduk yang nampak dari luar orang tersebut. Dan tidak seharusnya seseorang mengukur akhlak orang lain. Karena pengukuran akhlak yang benar adalah pengukuran terhadap terhadap dirinya sendiri.

Pertanyaan selanjutnya adalah, apa yang disebut dengan jiwa yang sehat? Jiwa yang sehat adalah jiwa yang sesuai dengan fitrahnya. Dan akhlak mulia adalah akhlak yang sesuai [tidak bertentangan] dengan keinginan jiwa yang fitrah jiwa yang membahagiakannya [pleasure]. Dan pleasure yang hakiki adalah bukanlah kebahagiaan indrawi seperti kenyang, kekayaan, kehormatan, dll. Ia adalah kebahagiaan jiwa [sesuatu yang berlawanan dengan keinginan syahwat].

Adapun hal-hal yang membahagiakan jiwa adalah hal-hal yang mengarah kebaikan. Dan petunjuk ke arah kebaikan adalah wahyu [revelation] yang diatur oleh Sang Pemberi kebahagiaan. Sehingga seseorang yang sesuai dengan kebaikan, maka jiwanya akan bahagia dan tenang. Pun begitu pula sebaliknya.

Semua hal yang terkait dengan kebaikan tersebut dikendalikan oleh jiwa manusia dengan kehendak dan pilihan yang sadar, bukan gerak refleks. Kalaupun hal tersebut berwujud perbuatan manusia, maka ia adalah perbuatan yang berkualitas. Yaitu perbuatan yang melibatkan jiwa, bukan sekedar pekerjaan fisik semata. Dengan demikian, ketika seseroang yang memberikan sapaan ”Selamat pagi!” kepada seorang sahabatnya, akan berbeda dengan seekor burung beo yang juga mengucap kata yang sama pada sang empunya. Pun, akan terdapat perbedaan kualitas akhlak antara orang yang menyapa dan mengucap salam karena tulus dan menyambung silaturrahmi dengan orang yang mengucap salam karena ingin pujian dan riya, meskipun kata dan gaya sapannya sama. Semua itu kembali kepada jiwanya masing-masing.

Dengan demikian, ukuran berakhlak tidaknya seseorang tidak bisa dilihat dari penampilan fisiknya semata. Perbuatan-perbuatan seseorang jika dikaitkan dengan akhlak, lebih merupakan manifestasi dari akhlak itu snediri. Dan untuk menjadikan diri berakhlak tidak semudah merubah perilaku dan perbuatan yang nampak oleh mata lahir.

Di sinilah letak pentingnya pendidikan akhlak, yaitu untuk menyadarkan jiwa akan fitrahnya. Dengan kesadaran ini, jiwa akan mampu menjadi pemimpin dalam ke”manusia”annya. Dengan kesadaran ini pula, ia akan mendapati hal-hal yang memang seharusnya dimiliki, yaitu plesure hakiki [karakter yang sebenarnya, bukan karakter yang seenaknya].

Belajar akhlak tidak semata-mata penguasaan terhadap semua teori-teori akhlak. Labih dari itu, tujuan belajar akhlak adalah untuk menjadikan diri sebagai manusia yang berakhlak. Dengan demikian ada dua langkah yang memang harus ditempuh dalam hal ini. Penguasaan tentang teori akhlak yang benar, untuk kemudian dijadikan tolak ukur terhadap akhlak diri sendiri.

 
Leave a comment

Posted by on June 21, 2013 in Filsafat

 

Tags: ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
Bintang Satu

Menulis untuk berbagi

The Neighborhood

It is known as a blog, we call it The Show

Syarifah Annisa

Learn to be "All Umm Madrasatul 'Ula"

RIZKY FAUZI PRESIDENT HAMIKU

SUPPORT RIZKY FAUZI SUCCESS with SHARE IT | Setelah DIBACA timbal baliknya harus di-SHARE soalnya gak gratis...

eqoxa

surat, curhat dan maksiat

Kata MiQHNuR

Berkata Dengan Semangat, Beda dan Tawa

Luckty Si Pustakawin

We live the life of an unfinished novel, still waiting to be written. –Absolute Stephanie-

Kala Ibu Menulis

dari rumah ini kami tumbuh bersama....

Life is wonderful

*hadianirahmi*

SUZIE ICUS PERSONAL BLOG

Education is not preparation for life; education is life itself - John Dewey

Indonesia Proud

Bangunlah Jiwanya...Bangunlah Badannya...Untuk Indonesia Raya!

Laa Tahzan..

Allah senantiasa bersama kita...

Merangkai Inspirasi

Bulu pena akan membawamu terbang, dengan kata-kata yang kau tulis seperti halnya bulu menerbangkan burung menuju langit. (Leonardo Da Vinci)

Blog Ayunda Damai

Bermain, Belajar dan Bercerita

%d bloggers like this: