RSS

SOFISME MODERN SEBAGAI LAWAN ILMU

21 Jun

Ilmu adalah pilar dari setiap dan aktivitas tiap-tiap Muslim. Umat Islam diwajibkan mempunyai ilmu sebelum ia bertindak dan berlaku. Ilmu pada akhirnya mengantarkan seseorang yang memilikinya pada keyakinan akan kebenaran [kepastian]. [QS. Al-Haqqah: 51 dan QS. Al-Takatsur: 3- 7].

Secara umum lawan dari pada ilmu adalah jahl [kebodohan], yaitu suatu keadaan yang menunjukkan ketiadaan atau kurangnya ilmu mengenai sesuatu yang seharusnya diketahui. Pada keadaan ini, solusi yang tepat adalah dengan pengajaran dan pendidikan.

Namun, selain macam kebodohan tersebut, ada lagi satu kebodohan yang lebih berat. Ibn Manzhur [lisan al-Arab] menjelaskan, macam kedua dari kebodohan adalah kebodohan kedua, yaitu kebodohan yang berat, keyakinan dengan fakta ataupun realitas, meyakini sesuatu yang berbeda dengan dari sesuatu itu sendiri, ataupun melakukan sesuatu dengan cara-cara yang berbeda dari bagaimana seharusnya sesuatu itu dilakukan. Kebodohan ini sangatlah berbahaya dalam pembangunan keilmuan, keagamaan,d an moralitas. Kebodohan ini pada akhirnya berujung pada penolakan kebenaran. Orang-orang yang berada pada kelompok ini bukan orang yang bodoh [yang tidak memiliki atau kekurangan ilmu]. Mereka adalah orang-orang yang berilmu. Hanya saja, ilmu mereka bukan ilmu yang benar, tetapi ilmu yang salah.

Pada pembagian ini, kebodohan jenis kedua ini dinamakan dengan sofisme. Sofis merupakan orang-orang yang mencoba membingungkan [mengaburkan] kebenaran. Mereka ada sejak dahulu kala. Namun hingga kini, keberadaan mereka tetap eksis dengan bentuk dan corak yang modern tentunya. Dalam hal ini, al-Attas membagi kelompok sofis menjadi tiga bagian.

Yang pertama adalah sofis la adriyyah [la adri, saya tidak tahu]. Kelompok ini akan selalu menagtakan bahwa “Saya tidak tahu.” Mereka akan selalu ragu mengenai keberadaan segala sesuatu sehingga menolah posibilitas ilmupenegtahuan. Contoh dari kelompok ini adalah sofis pada masa klasik seperti Xenophanes yang bersikap skeptis akan keberadaan dewa-dewa. Pada masa modern, ada Richad Rotry yang mengatakan bahwa hakikat ilmu adalah tidak memiliki hakikat. Pada masa kini, kelompok la adriyyah adalah orang-orang yang menyempitkan agama hanya pada iman saja. Itupun dimasukkan pada ruangan yang sempit, ruangan pribadi, artinya tidak seorang pun yang bias mengatakan kepada orang lain bahwa imanny benar atau salah.

Sofis yang kedua adalah al-‘indiyyah [‘indi, menurut saya]. Mereka adalah orang yang selalu bersikap subyektif. Mereka menerima posibilitas ilmu dan kebenaran, namun mereka menolak obyektifitas ilmu pengetahuan dan kebenaran itu sendiri. Contoh dari kelompok ini adalah kelompok postmodernisme. Kelompok ini akan mengakomodir semua realitas pada tingkatan yang sama, tiada yang lebih unggul. Mereka akan mengaggap bahwa kebenaran sebagai realitas subyektif. Pada akhirnya mereka akan menyamakan semua pada satu tempat dan tingkat yang sama. Hal yang sama juga terjadi pada agama, wahyu, ilmu, moral, dan lain sebagainya. Mereka akan terlihat toleran, namun pada hakekatnya mereka adalah orang-orang yang tidak mampu memahami arti perbedaan.

Tingkatan sofis yang terakhir dan yang paling berbahaya adalah tingkat ‘inadiyyah. Mereka adalah orang yang keras kepala, yang menafikan realitas segala sesuatu dan mengaggapnya sebagai fantasi dan hayalan semata. Mereka dalam al-Qur`an diberi gelar sebagai sufaha`, yaitu mereka yang menolak kebenaran. Kegemaran mereka adalah berdebat dan mendebat, meskipun tanpa bekal keilmuan. Debat di sini bukan untuk mencari kebenaran, namun sebaliknya, debat mereka adalah untuk mengaburkan kebenaran dan sesuatu yang sudah jelas. Pada akhirnya mereka akan membingungkan banyak orang karena aktivitas mereka. Alih-alih menjadi petunjuk bagi orang lain dengan ilmunya, orang seperti ini hanya akan membawa keraguan dan tidak tanggung-tanggung akan memporak-porandakan bangunan keilmuan dan keimanan orang lain tanpa bias membangunnya kembali.

Sayangnya, pada masa kini jarang ilmuwan dan cendekiawan yang menyadari hakekat kebodohan yang sesungguhnya. Orang yang berilmu sudah dianggap benar dalam artian gugurlah kewajiban orang tersebut karena ilmunya. Padahal, tidak semua orang berilmu itu berilmu dengan sejatinya. Karena ilmu yang sejati adalah ilmu yang mengantarkan pada keyakinan yang sebenarnya dalam berislam. Sebab dalam Islam, ilmu berjalan beriringan. Ilmu pengetahuan tidak hanya menolak sesuatu yang bertentangan dengannya, tetapi juga menolak yang merusaknya. Dan keragu-raguan [syakk] adalah salah satu bentuk yang bertentangan dengan ilmu itu sendiri.

 
1 Comment

Posted by on June 21, 2013 in Filsafat, Sains

 

Tags:

One response to “SOFISME MODERN SEBAGAI LAWAN ILMU

  1. laskarpena

    September 18, 2015 at 4:15 pm

    Mari Berbagi…
    laskarpenaalqolam.blogspot.com

    Saya Juga penggemar Pemikiran dan Peradaban Islam

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
Bintang Satu

Menulis untuk berbagi

The Neighborhood

It is known as a blog, we call it The Show

Syarifah Annisa

Learn to be "All Umm Madrasatul 'Ula"

RIZKY FAUZI PRESIDENT HAMIKU

SUPPORT RIZKY FAUZI SUCCESS with SHARE IT | Setelah DIBACA timbal baliknya harus di-SHARE soalnya gak gratis...

eqoxa

surat, curhat dan maksiat

Kata MiQHNuR

Berkata Dengan Semangat, Beda dan Tawa

Luckty Si Pustakawin

We live the life of an unfinished novel, still waiting to be written. –Absolute Stephanie-

Kala Ibu Menulis

dari rumah ini kami tumbuh bersama....

Life is wonderful

*hadianirahmi*

SUZIE ICUS PERSONAL BLOG

Education is not preparation for life; education is life itself - John Dewey

Indonesia Proud

Bangunlah Jiwanya...Bangunlah Badannya...Untuk Indonesia Raya!

Laa Tahzan..

Allah senantiasa bersama kita...

Merangkai Inspirasi

Bulu pena akan membawamu terbang, dengan kata-kata yang kau tulis seperti halnya bulu menerbangkan burung menuju langit. (Leonardo Da Vinci)

Blog Ayunda Damai

Bermain, Belajar dan Bercerita

%d bloggers like this: