RSS

PENGARUH ORIENTALIS TERHADAP KAJIAN SEJARAH FILSAFAT ISLAM

19 Jun

philosophy book 

Bila kita mengkaji sejarah filsafat Islam, terutama di perguruan-perguruan tinggi di Indonesia, maka kita akan menemukan adanya silabus yang seragam. Yaitu kajian filsafat Islam yang diawali dengan kajian terhadap al-Kindi. Selanjutnya diikuti oleh al-Farabi, Ibn Sina, al-Ghazali, Ibn Rusyd dan kawan-kawan, dan setelah itu selesai.

Al-Kindi dikenal sebagai filosof Muslim pertama karena usahanya dalam penterjemahan naskah-naskah Yunani yang dipeloporinya. Banyak orang mengir bahwa fakta ini menunjukkan bahwa memang al-Kindilah filosof Muslim pertama, artinya, sebelum itu tidak ada filosof Muslim. Artinya pula, bahwa sebelum penterjemahan naskah-naskah Yunani ke dalam bahasa Arab dan Persi, tidak ada tradisi filsafat dalam Islam. Dan filsafat Islam baru ada setelah masuknya teks-teks Yunani ke dalam dunia Islam. Benarkah klaim ini?

Bila ditelusuri, klaim-klaim seperti ini [bahkan menjadi baku dalam silabus-silabus kajian filsafat Islam] ini bisa ditelusuri dari kajian-kajian para orientalis [dengan mengecualikan beberapa orang di antara mereka]. Mereka [para orientalis] berpendapat bahwa tidak ada tradisi filsafat dalam Islam [Peter F.E]. Atau Islam datang ke dunia ini tanpa filsafat [De Boer]. Ada juga yang berpendapat lebih ekstrim bahwa tradisi rasional dalam Islam itu sepenuhnya dipengaruhi oleh tradisi Hellenisme dan Yunani.

Memang, secara bahasa nama filsafat berasal dari bahasa Yunani yang diarabkan. Dan tidak bisa dipungkiri bila dalam tradisi intelektual Islam, filsafat merupakan penjelasan, penafsiran, dan adapsi elemen-elemen penting filsafat Yunani. Tapi dalam faktanya, cendekiawan Muslim juga menyeleksi dan mengembangkan elemen-elemen tersebut. Juga perlu diperhatikan bahwa, mereka [cendekiawan Muslim] tidak akan mampu menafsirkan, menjelaskan, serta mengadapsi pandangan-pandangan dalam cakrawala keimuan Islam bila mereka tidak memiliki pandangan hidup yang kuat.

Dalam sejarah Islam, filsafat atau falsafah Islam dirujuk pada tradisi ilmiah Islam pada abad ke-8, terutama pada pegnkajian teks-teks Yunani. Namun, dalam perjalanannya, nama ini telah diterima sebagai salah satu cabang pengetahuan dalam Islam. Asal-usul nama filsafat juga tidak lagi dipermasalahkan. Yang lebih ditekankan dalam filsafat Islam adalah ilmu tentang Wujud. Ibn Taymiyah juga tidak keberatan dengan istilah falsafah ini, asal ditambah dengan predikat al-shahihah. Maka, nama ini diterima sebagai ilmu tentang Wujud. Dan pada kenyataannya, apa yang dikaji dalam filsafat pada umumnya diawali dengan pengkajian tentang Wujud ini.

Sayangnya, para orientalis hanya melihat filsfat Islam dari kaca mata mereka. Yaitu, yang dinamakan filsafat adalah tradisi rasional Yunani, terutama Neoplatonis Aristotelian atau filsfat paripatetik saja. Akibatnya, tradisi rasional Islam dan cendekiawan Muslim yang masuk dalam daftar filosof hanya mereka yang Neoplatonis Aristotelian, seperti al-Kindi, al-Farabi, Ibn Sina, dan lainnya. Atau secara singkat framework yang dipakai adalah sebagai berikut. Filsfat Islam dimulai oleh al-Kindi yang mula-mula bersentuhan dengan teks-teks Yunani. Tradisi ini dilanjutkan dan dikembangkan oleh generasi berikutnya dengan sangat canggih, yaitu oleh al-Farabi dan Ibn Sina. Namun pada tahap berikutnya, ada serangan terhadap tradisi filsafat ini oleh seorang teolog, yaitu al-Ghazali. Sayangnya, serangan ini tidak tepat sasaran. Maka oleh generasi berikutnya, kritik al-Ghazali dijawab oleh Ibn Rusyd yang berasal dari dataran Barat Andalusia.

Pada umumnya, kajian tentang sejarah filsafat akan berhendi sampai di sini. Kalaupun ada penambahan, maka rel yang digunakan tetap merujuk pada filsafat paripatetik.

Lalu bagaimana mendudukkan sejarah filsafat Islam yang tepat?

Seperti yang dijelaskan di atas, memang nama filsafat Islam berasal dari Yunani. Dalam Islam sendiri terdapat konsep hikmah. Ketika umat Islam berkenalan dengan filsafat Yunani, mereka mengembangkannya namun tetap berpegangan pada konsep hikmah tersebut. Jadi, yang terjadi bukan pengambilan seluruh pemikiran filsafat Yunani ke dalam Islam, tapi hikmah dalam Islam telah menemukan sparing partnernya untuk berkembang. Dengan demikian, filsafat Islam dapat didefinisikan sesuai dengan konsep-konsep dalam wahyu dan berpijak pada doktrin tawhid. Di sini filsafat Islam tidak hanya dapat dicari akarnya dari al-Qur`an, hadis, dan tradisi intelektual Islam, tapi juga dapat dikembangkan berdasarkan konsep-konsep yang terdapat di dalamnya. Oleh sebab itu, framework Sejarah Filsafat Islam dimulai dengan pembahasan dari konsep al-Qur`an, Kalam, falsafah (pemikir Muslim baik pengikut paripatetik maupun pengkrtiknya), dan tasawwuf.

Dengan pengkajian yang luas tersebut, kajian sejarah filsafat Islam akan menemukan akarnya dalam tradisi Islam. Ia tidak hanya berakar pada penterjemahan pada abad ke-8 saja. Ia juga mencakup semua aktifitas berpikir dalam Islam, baik dari kalangan teolog [seperti Hasan al-Basri, Wasil bin Atha’, dan lainnya], bidang hukum [seeprti Abu Hanifah, Ja’far Shidiq, Malik bin Anas, dan lainnya], tradisionalis [seperti Urwah bin Zubair, Ibn Ishaq, dan lainnya], dan dari mazhab-mazhab filsafat itu sendiri, seprti mazhab Sunni, paripatetik, Sufi, Naturalis, dan Ikhwan al-Shafa. Sehingga didatapi pula, bahwa tradisi paripatetik [al-Kindi dan lainnya] itu hanya bagian kecil dari sebuah tradisi berpikir rasional dalam Islam. Pengkajian selanjutnya adalah tahap perkembangan dan reorientasi pemikiran filsafat hingga masa kini.

Yang perlu dilakukan dalam hal ini adalah pendefinisian ulang terhadap filsafat Islam. Filsafat Islam harus didefinisikan sesuai dengan adanya fakta sejarah tradisi rasional dalam Islam. Selain itu, perlu juga dijelaskan tentang proses lahirnya filsafat Islam secara benar. Dengan demikian, sejarah filsafat Islam akan bisa dilacak dari akarnya yang paling dalam.

Catatan ini disarikan dari kuliah-kuliah bersama Dr. Hamid Fahmi Zarkasyi di beberapa kesempatan yang membahas tentang Orientalisme dan Pandangan Hidup Islam [Islamic Worldview] yang diselenggarakan oleh Insists.

Cinangka, 17 April 2008.

 
Leave a comment

Posted by on June 19, 2013 in Filsafat

 

Tags:

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
Bintang Satu

Menulis untuk berbagi

The Neighborhood

It is known as a blog, we call it The Show

Syarifah Annisa

Learn to be "All Umm Madrasatul 'Ula"

RIZKY FAUZI PRESIDENT HAMIKU

SUPPORT RIZKY FAUZI SUCCESS with SHARE IT | Setelah DIBACA timbal baliknya harus di-SHARE soalnya gak gratis...

eqoxa

surat, curhat dan maksiat

Kata MiQHNuR

Berkata Dengan Semangat, Beda dan Tawa

Luckty Si Pustakawin

We live the life of an unfinished novel, still waiting to be written. –Absolute Stephanie-

Kala Ibu Menulis

dari rumah ini kami tumbuh bersama....

Life is wonderful

*hadianirahmi*

SUZIE ICUS PERSONAL BLOG

Education is not preparation for life; education is life itself - John Dewey

Indonesia Proud

Bangunlah Jiwanya...Bangunlah Badannya...Untuk Indonesia Raya!

Laa Tahzan..

Allah senantiasa bersama kita...

Merangkai Inspirasi

Bulu pena akan membawamu terbang, dengan kata-kata yang kau tulis seperti halnya bulu menerbangkan burung menuju langit. (Leonardo Da Vinci)

Blog Ayunda Damai

Bermain, Belajar dan Bercerita

%d bloggers like this: