RSS
Image

MEMBANGUNKAN RAKSASA TIDUR [Catatan Buku Reaktualisasi Tradisi Ilmiah Islam] Karya: Prof. Mulyadhi Kartanegara

19 Jun

 “Raksasa Tidur” adalah istilah yan beliau gunakan untuk mengistilahkan keadaan masyarakat Muslim Indonesia. Disebut raksasa karena jumalh kuantitas dan potensi yang dimiliki oleh umat Muslim Indonesia bila diaktualisasikan. Sayangnya, sang raksasa yang hebat itu saat ini masih tidur pulas. Karena pulasnya, tidak satu pun manusia yang segan kepada sang raksasa, apalagi takut kepadanya.

Malangnya lagi, dunia tempat sang raksasa itu adalah Indonesia. Yaitu suatu bangsa yang sering mendapatkan rekor di mata dunia akhir-akhir ini, baik pada urutan paling atas maupun rekor yang paling bawah. Di bagian tingkat korupsi, pencemaran lingkunga, trafficking, pornografi, dan sejenisnya, Indonesia menempati urutan paling atas di antara bangsa-bangsa lainnya. Sedangkan pada taraf pendidikan, kemajuan teknologi, serta kemajuan-kemanuan lainnya, Indonesia menempati uruutan paling bawah.

Banyak kemudian yang mencoba menerka-nerka apa penyebab kondisi Indonesia menjadi seperti ini. Apakah ini dikarenakan keberadaan sang raksasa di bumi Indonesia? Atau dalam arti kata keberadaan Islamlah yang menyebabkan kondisi Indonesia seperti ini? Jikalau jawaban ini positif, berarti Islam adalah penyebab kemunduran suatu bangsa. Setiap bansga yang mayoritas berpenduduk Islam haruslah suatu bangsa yang mundur. Namun, sejatinya kita juga harus cermat membaac sejarah.

Selama beberapa abad terdahulu, ternyata Islam pernah menjadi pemimpin peradaban di dunia. Bahkan apa yang dilakukan oleh masyarakat Muslim masa itu telah menjadi sumbangan berharga bagi peradaban dunia, bahkan hingga saat ini. Dengan demikian, jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan di atas adalah jawaban yang negatif. Dan pertanyaan yang muncul kemudian adalah apa saja yang membedakan kita dengan para pendahulu kita? Sebagai sesame Muslim, kenapa mereka bisa lebih maju sedangkan kita tidak?

Pentinnya Ilmu dalam Peradaban

Tidak dapat diingkari, ilmu adalah pilar peradaban. Semakin maju perkembangan ilmu dalam suatu bangsa, maka bisa dipastikan semakin maju pula peradaban bangsa tersebut. Ingat keadaan Negara Jepang dan Sinagpura saat ini. Kendati hanay memilki sumber daya alam yang sedikit, namum mereka mampu menjadi pemimipin kemajuan teknologi dan menjadi kiblat bagi Negara-negara lain. Hal ini disebabkan karena tradisi ilmu mereka adalah tradisi ilmu yang maju dan berkembang.

Kita juga bisa merujuk pada sejarah keemasa Islam pada masa Dinasti Abbasiyah dalam beberapa abad. Ketika itu Islam menguasai segala kemajuan yang ada pada waktu itu. Islam menjadi rujukan peradaban-peradaban lain. Dimana pada saat yang sama, dunia Barat sedang berada dalam abad kegelapan. Tentu sebab dari segala kemajuan saat itu adalah tradisi keilmuan yang sangat berkembang dibuktikan dengan penemuan-penemuan yang dihasilkan dari tardisi-tradisi tersebut yang bisa dimanfaatkan oleh masyarakat luas. Dan hal tersebut dalam sejarah, tidak hanya sejarah umat Islam, tetapi juga sejarah dunia.

Maka, pengkajian terhadap sejarah tersebut adalah hal yang patut diapresiasi. Kami merasa beruntung karena mendapatkan mata kuliah ini dengan bimbingan seorang professor yang memahami betul hakekat sejarah. Sejarah tidak hanya sekumpulan data yang tersusun dalam pojok-pojok perpustakaan. Sejarah adalah catatan peristiwa-peristiwa berharga yang telah terjadi yang darinya banyak pelajaran yang bisa dimanfaatkan. Sejarah keemasan berarti memberikan pelajaran bagaimana suatu bangsa bisa mencapai kemajuan serta proses-proses yang telah ditempuhnya. Sebaliknya, sejarah keterpurukan memberikan pelajaran bahwa ada kesalahan yang pernah dibuat. Sehingga dengan mempelajarinya, kesalahan-kesalahan tersebut tidak akan diulang kembali.

Keberadaan buku ini dan Prof. Mulyadhi Kartanegara di tengah-tengah kami telah memberikan nuansa yang berbeda dan kesan yang berbeda tentang sejarah. Sejarah masa lalu dihadirkan dalam konteks kekinian. Kami diajak menyelami keagungan dan zaman keemasan Islam, namun kami tidak diizinkan larut didalamnya. Kami selalu diingatkan bahwa kami mempunyai sejarah sendiri, yang harus kami tulis dengan tinta kami sendiri.

Setidaknya itulah kesan kami selama belajar bersama beliau. Dan pada kesempatan ini, saya akan membagikan pengalaman tersebut. Saya akan menyarikan inti kuliah-kuliah sejarah peradaban tersebut dalam beberapa bagian. Sebagai pembuka, perlu juga diinformasikan bahwa sejarah yang dimaksud adalah sejarah keemasan Islam, yaitu abad kedelapan hingga akhir abad keempat belas.

Masa ini sengaja dipilih oleh Pak Mul untuk memudahkan kami. Kami akan fokus mengkaji kemajuan Islam untuk ditelaah kembali, semangatnya dihadirkan kepada kami, serta pengkajian lainnya juga diharapkan. Inilah yang dimaksud dengan salah satu upaya untuk membangunkan raksasa yang sedang tertidur pulas. Karena sejatinya maksud pengkajian ini tidak hanya berhenti pada kertas ujian-ujian saja. Tentunya pula hal ini tidak lepas dari kritik. 

Faktor Pendorong Kemajuan Ilmu

Sudah disepakati, maju mundurnya suatu bangsa ditentukan oleh berkembang tidaknya tradisi ilmu yang kemudian berpengaruh pada penemuan-penemuan ilmiah. Setidaknya ada tiga faktor yang membantu perkembanagn ilmu di dunia Islam pada masa kejayaannya. [1] Agama, [2] Apresiasi masyarakat terhadap ilmu, [3] Patronase yang sangat dermawan dari para penguasa dan orang-orang kaya terhadap kegiatan kegiatan ilmiah. 

Faktor pertama. Islam adalah agama yang sangat empatik dalam mendorong umatnya menuntut ilmu. Hal ini tidak bisa diingkari lagi. Betapa tidak, al-Quran sendiri mengandung banyak pujian terhadap orang-orang yang berilmu. Ayat yang pertama turun pun ayat yang mengapresiasi ilmu pengetahuan. Bahkan dalam beriman pun, terlebih dahulu yang diharuskan untuk berilmu.

Derajat yang diberikan kepadaorang yang berilmu juga berbeda dengan orang yang tidak berilmu. Selain itu pula, hadis juga banyak menunjukkan tentang hal ini. Umat Islam diwajibkan untuk menuntut ilmu, tidak terbatas oleh ruang, waktu, atau pun usia.

Maka sebagai Muslim, tentu saja kita berbagi kewajiban untuk menuntut ilmu. Dan dorongan-dorongan inilah yang agaknya menajdi semangat para pendahulu kita kala itu.

Faktor kedua. Apresiasi masyarakat. Faktor ini juga penting di samping faktor agama. Sejarah mencatat betapa ilmuwan-ilmuwan (uama0 kala itu sangat dihargai oleh seluruh lapisan masyarakat, baik kelas bawah, maupun menengah, bahkan kalangan atas. Keberadaan seorang ulama atau ilmuwan selalu menghadirkan gairahmasyarakat untuk menemui dan mendengarkanpidato-pidatonya. Sebagai contoh, masyarakat Baghdad sangat gemar untuk menyaksikan debat terbuka yang sering diselenggarakan di tempat-tempat umum, khususnya balkon took buku, anatara para teolog dan filosof. Sementara, seorang pemimpin adalah orang yang pertama dalam berkepentingan terhadap ilmu pengetahuan itu sendiri.

Faktor ketiga. Patronase Penguasa. Tidak hanya masyarakat yang hendaknya mengapresiasi terhadap ilmu. Peran penguasa sangat besar dalam tradisi ilmu. Para penguasa kala itu sangat besar dalam mendorong, dukungan, serta bantuan finansial dan perlindungan bagi perkembanagn ilmu pengetahuan. 

Sejarah menyebutkan, para penguasa kala itu berlomba-lomba mengundang ilmuwan dan ulama ke istana-istana mereka. Para ilmuwan dan ulama tersebut diberi penghargaan yang luar biasa besarnya. Sehingga mereka akan tercukupi kehidupannya. Dan tugas mereka adalah mengkaji ilmu, mengajarkannya, seta mengembangkannya. Hal ini bisa kit abaca pada sejarah al-Kindi, al-Farabi, Nashruddin al-Thusi, Rumi, dan lain sebagainya. Mereka akan difasilitasi dengan fasilitas yang lengkap.

Selain itu, penguasa juga menjadikan tradisi iliah sebagai program utama pemerintahan. Mereka berlomba-lo,ba untuk membangun sarana dan prasaran ilmiah. Maka di kala itu banyak dibangun madrasah, akademi, perpustakaan, observatorium, rumah-rumah sakit, yang kesemuanay itu dibiayai oleh penguasa.

Marilah kita menengok lingkungan kita. Betapa jauh keberadaan lingkungan kita dari lingkungan para pendahulu-pendahulu kita. Namun bukan berarti hal itu menjadi penghalang bagi kita untuk menghiduppkan tradisi ilmiah. Memang pada sejatinya, lingkungan sangat mendukung. Namun ketika dukungan itu tidak maksimal, bukan berbarti kewajiban kita gugur. Setidaknya, kita telah menjalankan ajaran agama kita.

 
Leave a comment

Posted by on June 19, 2013 in Buku, Peradaban

 

Tags: ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
Bintang Satu

Menulis untuk berbagi

The Neighborhood

It is known as a blog, we call it The Show

Syarifah Annisa

Learn to be "All Umm Madrasatul 'Ula"

RIZKY FAUZI PRESIDENT HAMIKU

SUPPORT RIZKY FAUZI SUCCESS with SHARE IT | Setelah DIBACA timbal baliknya harus di-SHARE soalnya gak gratis...

eqoxa

surat, curhat dan maksiat

Kata MiQHNuR

Berkata Dengan Semangat, Beda dan Tawa

Luckty Si Pustakawin

We live the life of an unfinished novel, still waiting to be written. –Absolute Stephanie-

Kala Ibu Menulis

dari rumah ini kami tumbuh bersama....

Life is wonderful

*hadianirahmi*

SUZIE ICUS PERSONAL BLOG

Education is not preparation for life; education is life itself - John Dewey

Indonesia Proud

Bangunlah Jiwanya...Bangunlah Badannya...Untuk Indonesia Raya!

Laa Tahzan..

Allah senantiasa bersama kita...

Merangkai Inspirasi

Bulu pena akan membawamu terbang, dengan kata-kata yang kau tulis seperti halnya bulu menerbangkan burung menuju langit. (Leonardo Da Vinci)

Blog Ayunda Damai

Bermain, Belajar dan Bercerita

%d bloggers like this: