RSS

Apa Kabar Islamisasi Pengetahuan?

19 Jun

KnowledgeSalah satu gerakan yang merespon kemunduran umat Islam pada abad-abad terakhir ini adalah islamisasi ilmu pengetahuan. Gerakan ini muncul pada pertengahan 70-an yang menjadi agenda intelektual dan memberikan harapan besar pada kebangkitan Islam. Kala itu, isu ini juga menjadi topik kontroversial. Pada satu sisi, ia memberi inspirasi kepada intelektual dan aktivis Muslim di seluruh dunia, namun di sisi lain, ia juga mengundang reaksi keras.

Hingga kini, yaitu di usia yang sudah masuk 30-an tahun, gerakan ini masih menjadi kajian menarik oleh beberapa pihak. Namun bagi para pengkritik, usia 30-an tahun menjadi senjata ampuh untuk menanyakan hasil gagasan islamisasi dalam bentuk kongkritnya.

Perlu dijelaskan di awal bahwa maksud islamisasi ilmu pengetahuan ini bukanlah sejenis pemasangan label pada produk-produk ilmu pengetahuan, sehingga Anda jangan membayangkan bahwa islamisasi pengetahuan akan menghasilkan mobil Islam, mesin Islam, pesawat terbang Islam, perumahan Islam, dan lainnya. Jika Anda menanyakan hal ini kepada sebagian penggagasnya yang masih hidup, Anda akan ditertawakan dan pertayaan Anda akan menunjukkan ketidaktahuan Anda.

Memang definisi islamisasi ilmu pengetahuan tidak satu. Karena penggagasnya tidaklah satu. Bahkan antara satu penggagas dengan lainnya terdapat perbedaan. Dengan pemahaman yang sepintas dan sekenanya, mungkin akan menjadikan definisi ini akan mudah ditolak atau dicibir begitu saja.

Al-Attas mendefinisikan islamisasi ilmu pengetahuan sebagai,

islamisasi pikiran, jiwa, dan raga serta efek-efeknya terhadap kehidupan umat Islam dan umat Islam lain secara individual maupun kolektif. Jadi yang diislamkan adalah ilmu dalam diri al-‘alim (orangnya) bukan al-ma’lum (objek ilmu), dan bukan teknologi. Yang diislamkan adalah paradigma saintifiknya dan sekaligus worldview-nya. Dengan asumsi, jika paradigma dan wordview-nya telah berserah diri kepada Tuhan, maka sains dapat memproduk teknologi yang ramah lingkungan. Teknologi bisa serasi dengan maqashid syari’ah dan bukan dengan nafsu manusia.

Perlu juga ditegaskan di sini, al-Attas membatasi islamisasi ilmu hanya pada ilmu pengetahuan kontemporer yang bermasalah. Sehingga islamisasi ilmu bukan berarti islamisasi seluruh ilmu dalam diri al-‘alim.

Definisi ini tentu akan berbeda dengan definisi al-Faruqi misalnya. Al-Faruqi mendefinisikan islamisasi sebagai islamisasi disiplin ilmu atau lebih kongkritnya memproduksi buku teks universitas yang telah dibentuk kembali menurut visi Islam dalam sekitar dua puluh disiplin. Al-Faruqi bahkan memaparkan dua belas langkah kongkrit yang harus dilakukan dalam islamisasi ini. Gagasan ini begitu sederhana dan terlihat mudah, hingga menjadikannya mudah diterima oleh masyarakat luas dari pada pemikiran al-Attas sendiri. Namun, popularitas yang terbur-bur dalam suatu  program intelektual dan filosofis yang sangat menantang dan rumit dapat mengakibatkan oversimplifikasi yang mencolok dan distorsi-distorsi yang mengundang sinisme dan penolakan. Editor AJISS (American Journal of Islamic Social Sciences) sendiri mengaku bahwa setelah enam kali konferensi pendidikan diadakan serta berdiriunya beberapa universitas dan institute yang memfokuskan pada islamisasi pendidikan (gagasan al-Faruqi), tugas utama islamisai dalam menghasilkan silabus sekolah, buku-buku teks, dan petunjuk yang membantu guru di skeolah-sekolah belum dilakukan.

Begitu pula definisi Nasr yang mendefinisikan islamisasi ilmu dengan berbeda. Islamisasi ilmu adalah menginterpretasikan dan pengaplikasikan sains modern ke dalam konsep Islam mengenai konmos. Hal ini dimaksudkan pada upaya-upaya yang telah dilakukan oleh ilmuwan-ilmuwan Muslim masa Ibn Sina, al-Thusi, dan lainnya. Ia bahkan menganggap bahwa hakikat dan ciri sains Islam itu sangat berbeda dari hakikat dan cirri saisn modern. Sayangnya, Nasr belum bayak memikirkan islamisasi sebagai program kependidikan dan filosofis terencana.

Tentu saja gagasan-gagasan ini jugamendapat kritik, baik kritik serius maupun kritik yang tidak relevan sekalipun. Banyak anaggapan bahwa label “Islam” itu tidak pernah ada dalam tradisi msa lalu. Ada pula anggapan bahwa ilmu itu universal sehingga tidak ada keharusan utnuk mengislamkannya. Ada pula anggapan bahwa islamisasi ilmu itu berarti menganggap ilmu yang ada itu tidak Islam. Sementara kegagalan IIIT (al-Faruqi) dalam memproduksi hasil islamisasi menguatkan kritik mereka yang menentang islamisasi ilmu. Sementara pada pihak yang lebih keras mengaggap bahwa islamisasi ilmu pengetahuan tidak menghasilkan apa-apa yang bisa dibuktikan secara kongkrit.

Tentu saja kritik-kritik ini berguna bagi para penggiat islamisasi ilmu untuk terus menutup kekurangan-kekurangan yang ada. Toh, bagi beberapa kelompok, islamisasi ilmu adalah hal yang masih harus dilakukan. Dalam hal ini al-Attas berpendapat bahwa islamisasi ilmu pengetahuan kontemporer sebagai bagian yang sangat fundamental dari islamisasi pikiran dan masyrakat tentu bukan egenda musiman. Ia untuk tingkat individu lebih merupakan agenda sepanjang hidup, dan untuk tingkat masyrakat lebih merupakan agenda kebudayaan. Hal ini sejalan dengan definisi  yang dipakainya. Dengan islamisasi ini, akan terbentuk worldview Islam pada individu-individu yang pada akhirnya melahirkan ilmu yang sesuai dengan fitrah manusia, fitrah alam semesta, dan fitrah yang diturunkan (fitrah al-munazzalah). Dengan paradigma keilmuan Islam akan muncul ilmu yang memadukan ayat-ayat Quraniyyah, kauniyyah, dan nafsiyyah. Hasilnya adalah ilmun-nafi’ yang menajdi nutrisi iman dan pemicu amal. (Zuhriyyah Hidayati)

 
Leave a comment

Posted by on June 19, 2013 in Sains

 

Tags:

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
Bintang Satu

Menulis untuk berbagi

The Neighborhood

It is known as a blog, we call it The Show

Syarifah Annisa

Learn to be "All Umm Madrasatul 'Ula"

RIZKY FAUZI PRESIDENT HAMIKU

SUPPORT RIZKY FAUZI SUCCESS with SHARE IT | Setelah DIBACA timbal baliknya harus di-SHARE soalnya gak gratis...

eqoxa

surat, curhat dan maksiat

Kata MiQHNuR

Berkata Dengan Semangat, Beda dan Tawa

Luckty Si Pustakawin

We live the life of an unfinished novel, still waiting to be written. –Absolute Stephanie-

Kala Ibu Menulis

dari rumah ini kami tumbuh bersama....

Life is wonderful

*hadianirahmi*

SUZIE ICUS PERSONAL BLOG

Education is not preparation for life; education is life itself - John Dewey

Indonesia Proud

Bangunlah Jiwanya...Bangunlah Badannya...Untuk Indonesia Raya!

Laa Tahzan..

Allah senantiasa bersama kita...

Merangkai Inspirasi

Bulu pena akan membawamu terbang, dengan kata-kata yang kau tulis seperti halnya bulu menerbangkan burung menuju langit. (Leonardo Da Vinci)

Blog Ayunda Damai

Bermain, Belajar dan Bercerita

%d bloggers like this: