RSS

Category Archives: Filsafat

Hierarki Ilmu (Part I)

Bagi sejumlah pemikir muslim, persoalan-persoalan  mendasar dalam pendidikan Islam adalah problem ilmu pengetahuan yang tercermin dalam sistem pendidikan. Problem ini tidak berkaitan dengan masalah buta huruf atau persoalan kebodohan orang awam, tetapi ilmu pengetahuan yang disalahartikan, bertumpang tindih, dan terkacaukan oleh pandangan hidup yang tidak sesuai dengan pandangan hidup Islam. Ilmu dipelajari tanpa landasan epistemologi yang kuat dan sekedar pemenuhan syarat kepada pekerjaan praktis. Menurut al-Attas, permasalahan ini disebutnya sebagai corruption of knowledge dan lemahnya penguasaan umat terhadap ilmu pengetahuan. Dengan bahasa yang berbeda, permasalahan ini juga disebut sebagai krisis epistemologi dan kerancuan berpikir. Al-Attas menegaskan bahwa tantangan terbesar pada masa kini adalah tantangan ilmu pengetahuan, dalam artian ilmu tidak hanya berlawanan dengan kebodohan, tetapi ilmu juga berlawanan dengan ilmu yang tidak sesuai dengan pandangan hidup Islam (Islamic worldview). Menurut al-Attas, bila kerancuan ilmu ini dibiarkan, yang terjadi adalah pemahaman yang salah akan meluas di masyarakat sebagai produk pendidikan yang rancu. Akibat dari dua kekeliruan ini adalah kemunculan pemimpin yang tidak mempunyai akhlak dan kapasitas intelektual dan spiritual yang cukup dan membiarkan kezaliman terjadi begitu saja. Inilah yang disebut al-Attas sebagai ketiadaan adab (the loss of adab). Sedangkan menurut al-Faruqi, krisis yang melanda umat Islam pada dasarnya terletak pada dualisme sistem pendidikan yang ada di dunia Islam. Dualisme itu berwujud pemisahan sekolah agama dan non-agama atau sekedar menambahkan pelajaran non-agama ke sekolah agama. Menurutnya, problem ini tidak bisa diatasi hanya dengan mengakuisisi dan mengadopsi sistem pendidikan asing ke dalam sistem pendidikan Islam seperti yang dilakukan oleh Sayyid Ahmad Khan dan Muhammad Abduh. Pembaharuan model ini dianggapnya tidak memberikan manfaat, sebaliknya hanya membuat umat Islam bergantung kepada model penelitian dan cara kerja asing yang pada aspek-aspek tertentu tidak selaras dengan cara pandang Islam. Dengan bahasa yang berbeda, Nasr menyebut bahwa kekacauan yang melanda pendidikan modern di kebanyakan negara Islam belakangan ini dikarenakan kerancuan kurikulum pendidikan Islam yang disebabkan oleh hilangnya visi hierarki terhadap ilmu pengetahuan yang pada masa lampau dijunjung tinggi oleh sistem pendidikan tradisional. Hilangnya visi hierarki ilmu pengetahuan ini menyebabkan hilangnya asas utama sistem pendidikan di dunia Islam yaitu kehilangan orientasi dan tujuan utama pendidikan Islam. Pada tahap selanjutnya, sistem-sistem pendidikan Islam tersebut hanya melahirkan lulusan-lulusan yang disorientasi terhadap keilmuan secara umum dan hanya mengakibatkan kemunduran umat Islam di berbagai bidang.

Dalam tradisi intelektual Islam, visi hierarki dan hubungan antara satu disiplin ilmu dengan ilmu yang lain yang mewujudkan satu kesatuan dalam satu bangunan ilmu menjadi perhatian para intelektual terkemuka dengan latar belakang keilmuan yang bermacam-macam. Bagi para ilmuwan tersebut, visi hierarki tersebut dianggap penting dalam menempatkan tingkatan ilmu dan untuk mewujudkan kesalingterkaitan satu ilmu dengan ilmu yang lain. Kesalingterkaitan antar berbagai disiplin ilmu ini memungkinkan realisasi kesatuan (tauhid) dalam berbagai disiplin ilmu. Artinya, dalam berbagai disiplin ilmu terdapat nilai kesatuan dan keesaan.

Kembali Nasr menyebutkan bahwa subjek hierarki dan klasifikasi ilmu ini merupakan kunci bagi pemahaman terhadap dimensi utama tradisi keilmuan Islam dan juga sistem pendidikan Islam. Pemahaman akan visi ini juga dimaksudkan untuk mencegah para praktisi pendidikan Islam kontemporer agar tidak melepaskan diri dari kerancuan yang terjadi dalam kurikulum pendidikan saat ini, yang disebabkan pada peniruan buta terhadap model-model Barat.

Visi hierarki ilmu pengetahuan dalam tradisi keilmuan Islam terbentuk oleh pandangan hidup Islam (islamic worldview) dalam memandang status ontologi berbagai realitas wujud. Realitas wujud dalam Islam dipercaya meliputi realitas fisik dan metafisik. Dalam hal ini, para intelektual muslim menyusun hierarki wujud (martabah al-maujudat) berdasarkan keniscayaan wujudnya. Hierarki ini dimulai dari entitas-entitas metafisika, yaitu wujud-wujud yang secara niscaya tidak berhubungan dengan materi dan gerak, dengan Tuhan sebagai puncaknya. Karena Tuhan merupakan wujud niscaya (wajib al-wujud), maka wujud merupakan realitas tertinggi di antara wujud metafisika dan dipandang paling riil, mengingat keberadaan-Nya merupakan sebab bagi keberadaan wujud-wujud yang lain. Hierarki kemudian menurun melalui alam ‘antara’ yang bisa dilihat dari percampuran antara unsur-unsur metafisika dan fisik, yaitu wujud yang bersifat imateri tetapi masih berhubungan dengan materi dan gerak. Wujud ini seperti wujud matematika seperti keberadaan bilangan. Adapun tingkatan yang paling rendah adalah wujud yang berhubungan dengan materi dan gerak, yaitu realitas fisik.

Pandangan terhadap hierarki wujud ini kemudian membawa pengaruh terhadap klasifikasi dan metode ilmu pengetahuan. Para intelektual Islam, dari teolog hingga filosof, dari sufi hingga sejarawan, mencurahkan kemampuan mereka pada hierarki objek pengetahuan tersebut. Berdasarkan realitas-realitas tersebut, mereka mencoba menyusun klasifikasi ilmu yang dijabarkan bukan hanya dari Al-Quran dan Sunnah, tetapi juga yang diwarisi oleh para ilmuwan dan filosof muslim dari peradaban-peradaban terdahulu, seperti Yunani, Persia, dan India. Para sarjana ini berpendapat bahwa membuat katagorisasi ilmu pengetahuan merupakan bentuk keadilan yang merupakan salah satu inti ajaran Islam. Tepatnya, klasifikasi atau kategorisasi ilmu ini adalah usaha sekelompok sarjana untuk menggabungkan berbagai cabang ilmu pengetahuan ke dalam kelompok-kelompok tertentu supaya mudah dipahami.

Dalam hal ini, tercatat beberapa ilmuwan yang secara khusus menulis karya tentang pembahasan ini. Di antara karya-karya yang seringkali dijadikan rujukan adalah: Ih}s}a>’ al-‘ulu>m karya al-Fa>ra>bi>, Ih}ya>’ ‘Ulu>m al-Di>n karya al-Ghaza>li>, Qut}b al-Di>n al-Shi>ra>zi> dalam Durrat al-Ta>j, dan Ibn Khaldun dalam al-Muqaddimah. Selain karya-karya tersebut, sejumlah ilmuwan muslim lain juga menulis pembahasan ini secara intensif, di antaranya: al-Kindi> dalam Fi> Aqsa>m al-‘Ulu>m, Abu> Sahl al-Masihi> dalam Kita>b fi> As}na>f al-‘Ulu>m al-H}ikmiyyah, Ikhwa>n al-S{afa> dalam Rasa>il Ikhwa>n al-S}afa>, Mafa>tih} al-‘Ulu>m karya al-Khawa>rizmi>, al-Shifa>’ dan Aqsa>m al-‘Ulu>m al-‘Aqliyyah karya Ibn Si>na>, Irsha>d al-Qa>s}id ila> Asna> al-Maqa>s}id oleh al-Akfa>i, Shams al-Di>n al-‘Amu>li> dalam Nafa>is al-Funu>n. Banyaknya karya tersebut cukup menjadi bukti bahwa pembahasan mengenai klasifikasi ilmu merupakan hal yang penting dalam epistemologi Islam.

Dalam sejarah pendidikan Islam, pengaruh klasifikasi ilmu terhadap kurikulum pendidikan Islam tercermin dalam klasifikasi al-Ghaza>li> dalam ilmu pengetahuan ini telah menjadi acuan bagi lembaga-lembaga pendidikan Islam dan program klasifikasi ilmu agama yang dibuatnya merupakan kurikulum pada pendidikan madrasah-madrasah dari aliran Sunni pada abad ke-11. Pada madrasah pertama, madrasah Nizamiyah ini pula, al-Ghaza>li> pernah menjadi pemimpin sekaligus guru bagi para murid yang ingin belajar ilmu-ilmu agama (shar’i>) selama dua puluh lima tahun. Maka tidak mengherankan bila klasifikasi yang disusun al-Ghaza>li> memiliki keterkaitan erat dengan kurikulum dari madrasah ini.

Pada perkembangannya, klasifikasi yang disusun dan diperbaharui oleh para ilmuwan berikutnya untuk disesuaikan dengan kebutuhan dan perkembangan zaman masyarakat muslim. Salah satu contoh klasifikasi yang dibuat setelah al-Ghaza>li> adalah klasifikasi yang dibuat oleh Qut}b al-Di>n al-Shi>ra>zi> yang membagi ilmu menjadi ilmu filosofis dan ilmu non-filosofis. Pembaharuan yang dilakukan oleh Qut}b al-Di>n al-Shi>ra>zi> dilatari oleh serangan al-Ghaza>li> atas para filosof yang menjadikan filsafat di dunia Islam menjadi kurang rasionalistik. Pembaharuan yang sama juga dilakukan melalui sistem pendidikan.

Salah satu gerakan yang dilakukan oleh beberapa pakar pendidikan Islam adalah Konferensi Dunia Pertama tentang Pendidikan Islam yang diselenggarakan di Mekah pada tahun 1977 dan diikuti konferensi-konferensi serupa membahas berbagai permasalahan umat Islam, terutama mengenai krisis pendidikan di dunia muslim dan merekomendasikan penyusunan kurikulum pendidikan Islam yang berdasarkan pada pembaharuan klasifikasi ilmu. Selain tujuan tersebut, tujuan lain dari diselenggarakannya konferensi-konferensi tersebut adalah untuk memantapkan dan meningkatkan mutu pendidikan yang mengalami degradasi setelah dominasi dan invasi Barat ke dunia Islam di berbagai negara. Bagi para pakar pendidikan Islam yang hadir ketika itu, upaya ini dianggap sebagai salah satu solusi bagi permasalahan kemunduran umat Islam dan juga berbagai krisis multidimensi yang melanda kehidupan manusia pada umumnya. Para ilmuwan tersebut bersepakat bahwa permasalahan yang dihadapi umat Islam atas kemundurannya di berbagai bidang harus segera dipecahkan melalui lembaga pendidikan. Pendidikan dianggap salah satu sarana terpenting dalam pembangunan sumber daya manusia dan penanaman nilai-nilai kemanusiaan.

Langkah pertama untuk menangani permasalahan ini adalah dengan pendefinisian kembali tujuan pendidikan sebagai pencapaian pertumbuhan yang seimbang dalam kepribadian manusia secara total melalui latihan semangat spiritual, intelek, rasional, rasa, dan kepekaan diri. Kemudian langkah berikutnya adalah penjenisan kembali (reclassification) pengetahuan yang berdasar pada dua sumber, wahyu dan akal. Yang pertama disebut pengetahuan abadi (perrenial knowledge) yang didasarkan pada wahyu dan semua yang dapat ditarik dari wahyu. Sedangkan jenis ilmu yang kedua adalah pengetahuan yang “diperoleh” (acquired knowledge) yang di dalamnya termasuk ilmu-ilmu sosial, alam, dan terapan yang mengalami pertumbuhan dan perkembangan. Klasifikasi ini merevisi cakupan ilmu pengetahuan yang umumnya dipegang oleh “pendidikan Islam” sebelum Konferensi Dunia Pertama tentang Pendidikan Islam yang berlangsung pada tahun 1977. Kala itu, istilah “pendidikan Islam” hanya mengacu pada pengajaran teologis atau pengajaran al-Quran, Hadis, dan fiqih saja, sehingga disiplin ilmu yang lain dianggap berada di luar cakupan pendidikan Islam. Dari konferensi ini, terutama pada Konferensi Dunia Kedua tentang Pendidikan Islam yang berlangsung pada tahun 1980 di Islamabad disusunlah beberapa rekomendasi yang bersifat praktis dalam merealisasikan terlaksananya program kurikulum pendidikan Islam yang sesuai dengan definisi pendidikan Islam.

 
Leave a comment

Posted by on May 15, 2014 in Filsafat

 

Prinsip Epistemologi Islam

imagessss

Allah berfirman:

ﺇﻗﺭﺃ ﺒﺎﺴﻡ ﺭﺒﻙ ﺍﻠﺫﻯ ﺨﻠﻕ. ﺨﻠﻕ ﺍﻹﻨﺴﺎﻥ ﻤﻥ ﻋﻟﻕ .إﻗﺭﺃ ﻭ ﺭﺒﻙ ﺍﻷﻜﺭﻡ. ﺍﻠﺫﻯ ﻋﻠﻡ ﺒﺎﻠﻗﻠﻡ. ﻋﻠﻡ ﺍﻹﻨﺴﺎﻥ ﻤﺎ ﻠﻡ ﻴﻌﻠﻡ.

Artinya: “Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu Yang mencipyakan. Dia telah menciptakan manusia dari ‘alaq. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha Pemurah. Yang mengajar dengan pena, mengajar manusia apa yang tidak diketahuinya.” (QS. Al-‘Alaq [96]: 1-5).

Dalam ayat tersebut –yang merupakan ayat pertama turun- terdapat kalimat perintah yang tegas di awal pembicaraan. “Iqra`!” [bacalah]. Pada perintah tersebut, mulailah ajaran Islam –yang merupakan ajaran penerus para nabi terdahulu- muncul. Dalam pada itu pula, kelima ayat ini dijadikan oleh sebagian ilmuwan sebagai ayat prinsip epistemologi [teori-teori pengetahuan] dalam Islam. Read the rest of this entry »

 
Leave a comment

Posted by on July 25, 2013 in Filsafat

 

Tags: ,

Konsep Ilmu Pengetahuan dalam Islam

images
Prolog
Kemajuan peradaban adalah karena kemajuan tradisi keilmua, maka untuk membangun kembali suatu peradaban tertentu, yang harus dilakukan untuk pertama kali adalah membangun kembali tradisi keilmuan tersebut. Kita bisa menengok kembali sejarah Islam beberapa abad silam. Dalam sejarah tersebut, tertoreh tinta emas Islam menyinari peradaban dunia dengan kemajuan tradisi keilmuan ketika itu. Hal ini bukan untuk sekedar bernostalgia akan kejayaan Islam, lantas kemudian menjadikan kita bangga dan lupa diri. Setidaknya dengan mempelajari sejarah, kita bisa mengambil pelajaran berharga darinya. Read the rest of this entry »

 
Leave a comment

Posted by on July 20, 2013 in Filsafat, Sains

 

Tags:

ADAKAH SAINS ISLAM?

indexAbstrak

Ada anggapan dari sementara ilmuwan –baik ilmuwan non muslim maupun ilmuwan Muslim- bahwa wacana sains Islam adalah hal utopia dan tidak jelas. Bahkan sebagian ilmuwan menganggap bahwa sains Islam itu tidak ada.

Namun, bagi sebagian penggiat sains Islam, wacana sains Islam adalah suatu keharusan. Sains Islam adalah kebutuhan bagi umat Islam pada masa saat ini. Mereka terus berusaha untuk mewacanakan sains Islam sebagai salah satu alternatif bagi krisis sains modern.

Keyword: Sains Islam, Worldview

Read the rest of this entry »

 
Leave a comment

Posted by on July 20, 2013 in Filsafat, Peradaban, Sains

 

Tags: ,

ETIKA ISLAM DI DUNIA MODERN

Banyak orang mempertanyakan, apakah etika Islam masih bisa diharapkan peranannya di dunia yang serba modern ini. Pertanyaan lain pun muncul, apakah manusia yang modern dan terus berkembang ini masih membutuhkan etika Islam dalam kehidupannya. Semua pertanyaan-pertanyaan tersebut bermuara pada satu pokok, apakah ada relevasnsi antara etika Islam dan kehidupan modern saat ini? Kalau ada, sejauh mana relevansi itu?

Pada tulisan kali ini, penulis memilih jawaban positif atas pertanyaan-pertanyaan di atas dengan bebrapa argumen yang akan penulis kemukakan di paragraph-paragraf berikutnya. Read the rest of this entry »

 
Leave a comment

Posted by on June 24, 2013 in Filsafat

 

Tags:

SUDAHKAH KITA BERAKHLAK?

ethics-and-compliance

Banyak orang beranggapan bahwa ketika seseorang belajar etika atau akhlak, maka secara otomatis orang tersebut akan mempunyai akhlak yang mulia. Dan karena tujuan itu pula, seseorang menumpukan tujuannya dalam belajar akhlak.

Namun, pengetahuan akhlak tidak serta merta beriringan lurus dengan kepemilikan akhlak. Seseorang yang mempelajari ilmu akhlak atau ilmu etika tidak bisa dipastikan bahwa ia pasti akan berakhlak atau mempunyai akhlak. Read the rest of this entry »

 
Leave a comment

Posted by on June 21, 2013 in Filsafat

 

Tags: ,

SOFISME MODERN SEBAGAI LAWAN ILMU

Ilmu adalah pilar dari setiap dan aktivitas tiap-tiap Muslim. Umat Islam diwajibkan mempunyai ilmu sebelum ia bertindak dan berlaku. Ilmu pada akhirnya mengantarkan seseorang yang memilikinya pada keyakinan akan kebenaran [kepastian]. [QS. Al-Haqqah: 51 dan QS. Al-Takatsur: 3- 7].

Secara umum lawan dari pada ilmu adalah jahl [kebodohan], yaitu suatu keadaan yang menunjukkan ketiadaan atau kurangnya ilmu mengenai sesuatu yang seharusnya diketahui. Pada keadaan ini, solusi yang tepat adalah dengan pengajaran dan pendidikan.

Read the rest of this entry »

 
Leave a comment

Posted by on June 21, 2013 in Filsafat, Sains

 

Tags:

 
MikaDo Project

Seputar dunia anak

Keluarga "P"

bad things go away, good things here to stay

Be Smarter Be Healthier

Patient Safety, first

bambangpriantono

I am a teacher who lives in Tangerang, Indonesia. I love reading, traveling, photographing, writing and of course blogging. This is all about Indonesia especially my surroundings. Enjoy and love it.

enjeklopedia

Nulis ya nulis aja. Permudah jangan dipersulit! :D

Annisamufidah's Blog

Mempertajam mata hati, Mengikatnya dalam tulisan

Rek ayo Rek

Evia Koos

NengWie

Lelengkah halu di Pangumbara'an

Catatan Nyonya Besar

Just another word...

Perjalanan Panjang

Tentang Hidup, Asa dan Cinta

Fathia's little cave

I sail the world through the words.

CaraKata

Blog of a Word Crafter

Life Fire

Man Jadda Wajada | Dreams will be achieved when we truly believe in our heart ˆ⌣ˆ

BuFeb's Home

Celotehan BuPeb

Racikan Kata

Dara Prayoga, dan konspirasi semesta di sekitarnya

Rindrianie's Blog

Just being me

_matahari terbit_

penuh smangaD fajar

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 941 other followers