RSS

Prinsip Epistemologi Islam

25 Jul

imagessss

Allah berfirman:

ﺇﻗﺭﺃ ﺒﺎﺴﻡ ﺭﺒﻙ ﺍﻠﺫﻯ ﺨﻠﻕ. ﺨﻠﻕ ﺍﻹﻨﺴﺎﻥ ﻤﻥ ﻋﻟﻕ .إﻗﺭﺃ ﻭ ﺭﺒﻙ ﺍﻷﻜﺭﻡ. ﺍﻠﺫﻯ ﻋﻠﻡ ﺒﺎﻠﻗﻠﻡ. ﻋﻠﻡ ﺍﻹﻨﺴﺎﻥ ﻤﺎ ﻠﻡ ﻴﻌﻠﻡ.

Artinya: “Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu Yang mencipyakan. Dia telah menciptakan manusia dari ‘alaq. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha Pemurah. Yang mengajar dengan pena, mengajar manusia apa yang tidak diketahuinya.” (QS. Al-‘Alaq [96]: 1-5).

Dalam ayat tersebut –yang merupakan ayat pertama turun- terdapat kalimat perintah yang tegas di awal pembicaraan. “Iqra`!” [bacalah]. Pada perintah tersebut, mulailah ajaran Islam –yang merupakan ajaran penerus para nabi terdahulu- muncul. Dalam pada itu pula, kelima ayat ini dijadikan oleh sebagian ilmuwan sebagai ayat prinsip epistemologi [teori-teori pengetahuan] dalam Islam.

Prinsip Pertama

Iqra` berasal dari kata qara`a yang artinya menghimpun. Ia juga bermakna meyampaikan, menelaah, mendalami, meneliti, mengetahui ciri sesuatu, dan membaca baik tekas tertulis maupun tidak tertulis. Dalam ayat tersebut tidak disebutkan objek yang diperintahkan untuk dibaca. Yang diperintahkan hanyalah membaca dengan nama Tuhanmu. Hal ini dapat diartikan bahwa yang harus dibaca dalam pencarian ilmu adalah segala sesuatu, yang disertai satu syarat, yaitu dengan nama Tuhan yang telah menciptakan.

Dalam pandangan al-Qur`an, ilmu [bacaan] adalah keistimewaan yang menjadikan manusia unggul di antara makhluk-makhluk lainnya. Allah telah menganugerahkan kemampuan untuk membaca ini sebagai bekal dalam tugas menjadi khalifah di muka bumi ini. llah berfirman:

“Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama semuanya. Kemudian Dia mengemukakannya kepada para malaikat seraya berkata, ‘Sebutkanlah kepada-Ku nama-nama benda-benda itu jika kamu memang orang-orang yang benar.’ Mereka menjawab, ‘Maha Suci Engkau tiada pengetahuan kecuali yang telah Engkau ajarkan. Sesungguhnya Engkau maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.’” (QS. Al-Baqarah [2]: 31-32).

Pada ayat tersebut, Adam, sebagai bapak manusia diberikan pengetahuan, semuanya. Artinya, manusia sebagai anak cucu Adam juga memiliki potensi untuk mengetahui “semuanya” tersebut.

Prinsip Kedua

Dengan nama Tuhanmu yang menciptakan adalah satu prinsip dasar dalam aqidah umat Islam dan menjadi dasar pokok dalam epistemologi Islam. Bahwa dalam setiap pembacaan, penelitian, pendalaman, atau apapun istilahnya, yang disyaratkan adalah dengan nama Tuhan. Hal ini bahkan ditegaskan pada ayat berikutnya, Iqra` wa rabbuka al-akram [bacalah dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah].

Pengulangan ini tentu bukan tanpa ada maksud. Allah benar-benar menginginkan manusia untuk menelaah suatu objek atas nama-Nya, yang menciptakan sekaligus Yang Maha Pemurah. Hal ini juga menunjukkan bahwa tanpa pengulangan, kecakapan membaca, menelaah, meneliti, dan lainnya tidak akan bisa dicapai.

Dari ayat ini pula dapat disimpulkan bahwa bismi rabbika dan wa rabbuka al-alakram harus dijadikan sebagai titik tolak atau motivasi utama dalam pembacaan dan penelaahan. Demikian dengan tujuan akhir juga harus dipangkalkan pada Allah, Sang Pencipta dan Sang Maha Pemurah. Artinya pula bahwa ilmu yang dipelajari harus didasari atas tauhid yang kuat. Dengan demikian, ilmu yang dikaji harus bernilai Rabbani, tidak bebas nilai seperti yang dituduhkan oleh sementara ilmuwan.

Hal ini juga berarti, membaca karena dan untuk Allah berarti membaca untuk kemaslahatan makhluk-Nya, karena Ia tidak butuh sesuatu dan karena makhluk-Nya lah Ia menciptakan alams emesta ini. Dengan kata lain, ilmu yang dituntut dengan nama Allah adalah ilmu yang bermanfaat untuk makhluk-makhluk-Nya.

Prinsip Ketiga

Disebutkan dalam ayat tersebut bahwa “Allah mengajar manusia dengan pena, mengajar manusia apa yang tidak diketahuinya.” Hal ini mengisyaratkan bahwa ada dua cara perolehan dan pengembangan ilmu, yaitu Pertama, Allah mengajar dengan pena. Mengajar dengan pena dapat diartikan sebagai pengajaran yang biasa, yaitu pengajaran terhadap apa yang sudah umum diketahui oleh manusia lainnya.

Kedua, pengajaran apa yang tidak diketahui oleh manusia. Pengetahuan yang dimaksud adalah pengajaran tanpa usaha manusia itu sendiri. Pengetahuan yang dimaksud adalah pengetahuan yang diberikan Allah tanpa “pena.” Ilmu yang kedua ini seringkali disebut oleh sebagian ilmuwan Islam dengan ilmu hudhuri, yaitu ilmu perolehan yang didapat manusia, bukan yang dicapai oleh manusia.

Kata mâ lam ya’lam juga diartikan sebagai hal-hal yang tidak terlihat oleh indera kasar, yaitu hal-hal non materi [ghaib]. Dengan demikian, objek ilmu pengetahuan dalam epistemologi Islam adalah hal-hal yang nampak [bisa dipelajari dengan pena], dan hal-hal yang tidak nampak. Karena hal itulah, sebagian ilmuwan Islam merumuskan beberapa tingkatan alam yang bisa [mungkin] dipelajari oleh manusia.

Dalam hal ini, al-Qur`an juga menyebutkan sarana dan tata cara dalam memperoleh ilmu tersebut. “Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan, dan hati agar kamu bersyukur [menggunakannya sesuai petunjuk Ilahi untuk memperoleh pengetahuan].” (QS. Al-Nahl [16]: 78).

Kata “al-af`idah” [hati] bisa diartikan dengan akal atau hati. Artinya, pengetahuan dalam epitemologi Islam bisa diperoleh tidak hanya dengan mata dan hati saja, seperti yang didalihkan oleh kaum empirisme. Ilmu dalam Islam bisa diperoleh melalui akal serta hati. Dan apa yang dihasilkan dari akal dan hati juga mempunyai nilai yang tidak kalah dengan hasil penelitian empiris.

Dengan demikian, kelima ayat tersebut telah memberikan dasar kuat bagi epistemologi Islam. Bahwa ilmu dalam Islam sangatlah luas. Ia harus dikaji dengan ujung dan pangkal karena dan untuk Allah. Ia juga tidak terbatas pada hal-hal yang empiris saja. Karena pengetahuan yang lahir hanyalah sedikit yang melalaikan manusia. Allah berfirman:

“…Tetapi banyak manusia yang tidak mengetahui. Mereka hanya menegtahui yang lahir saja dari kehidupan dunia. Sedangkan tentang akhirat, mereka lalai.” (QS. Al-Rûm [30]: 6-7).

Sumber Bacaan

Quraish Shihab, Wawasan al-Qur`an, Tafsir Maudhi`i atas Pelbagai Persoalan Umat.

Syed M. Naquib al-Attas, Konsep Pendidikan dalam Islam.

Mulyadhi Kartanegara, Pengantar Epistemologi Islam.

 
Leave a comment

Posted by on July 25, 2013 in Filsafat

 

Tags: ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
Keluarga "P"

bad things go away, good things here to stay

Be Smarter Be Healthier

Patient Safety, first

bambangpriantono

I am a teacher who lives in Tangerang, Indonesia. I love reading, traveling, photographing, writing and of course blogging. This is all about Indonesia especially my surroundings. Enjoy and love it.

enjeklopedia

Nulis ya nulis aja. Permudah jangan dipersulit! :D

Annisamufidah's Blog

Mempertajam mata hati, Mengikatnya dalam tulisan

Rek ayo Rek

Evia Koos

NengWie

Lelengkah halu di Pangumbara'an

Catatan Nyonya Besar

Just another word...

Perjalanan Panjang

Tentang Hidup, Asa dan Cinta

Fathia's little cave

I sail the world through the words.

CaraKata

Blog of a Word Crafter

Life Fire

Man Jadda Wajada | Dreams will be achieved when we truly believe in our heart ˆ⌣ˆ

BuFeb's Home

Celotehan BuPeb

Racikan Kata

Dara Prayoga, dan konspirasi semesta di sekitarnya

Rindrianie's Blog

Just being me

_matahari terbit_

penuh smangaD fajar

Fight For Freedom

- Iwan Yuliyanto Ideas -

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 941 other followers

%d bloggers like this: